Berita

Harga Jagung Tuban Tembus Rp 6.200 per Kg, Petani Sambut Panen Raya Bersama Prabowo

14
×

Harga Jagung Tuban Tembus Rp 6.200 per Kg, Petani Sambut Panen Raya Bersama Prabowo

Sebarkan artikel ini

Teras News — Harga jagung di Tuban, Jawa Timur, kini mencapai Rp 6.200 per kilogram, hampir dua kali lipat dari harga sebelumnya yang hanya berkisar Rp 3.800 hingga Rp 4.000. Kenaikan ini disambut petani setempat ketika Presiden Prabowo Subianto hadir langsung dalam panen raya jagung serentak di Kabupaten Tuban, Sabtu (16/5/2026).

Tasmuri, Ketua Kelompok Tani Ngudi Makmur, tidak menyembunyikan kegembiraannya. Kelompoknya mengelola lahan 631,7 hektare dengan sekitar 750 petani penggarap, dan kunjungan presiden ke wilayah mereka disebut sebagai yang pertama kali terjadi.

“Kalau Pak Presiden Prabowo ke sini, saya sangat-sangat senang. Karena belum pernah ada Presiden yang datang ke wilayah kami. Baru kali ini, jadi saya sangat semangat dan senang,” kata Tasmuri.

Harga Pupuk Turun, Antrean Berkurang

Perubahan yang paling dirasakan petani Tuban bukan sekadar soal harga jagung. Akses pupuk yang sebelumnya jadi keluhan utama kini mulai membaik. Tasmuri mengingat betul bagaimana dulu petani harus antre panjang hanya untuk mendapatkan pupuk dengan harga mahal.

“Dulu masalah pupuk sangat sulit, harus antre. Sekarang ada perubahan, oleh Pak Prabowo harganya diturunkan. Yang dulu lebih mahal, sekarang turun dan pelayanannya juga lebih sederhana, lebih mudah dicari,” tuturnya.

Meski demikian, ada masalah yang belum terpecahkan. Wilayah pertanian Ngudi Makmur masih sepenuhnya bergantung pada curah hujan. Tanpa irigasi yang memadai, panen kedua berisiko gagal total.

“Kalau tidak ada hujan, panen kedua bisa gagal. Petani rugi sangat besar karena jagungnya tidak bisa jadi,” ungkap Tasmuri. Ia berharap pemerintah membantu pengadaan fasilitas pengeboran air untuk irigasi di lahan mereka.

Petani Hutan Minta Perhatian Setara

Di kawasan hutan Tuban, cerita yang disampaikan tak jauh berbeda. Sudarlim, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Wono Lestari, menyebut 90 persen petani hutan di Tuban menanam jagung. Namun selama ini mereka merasa kurang mendapat perhatian dibanding petani di luar kawasan hutan.

“Harapannya ke depan bisa mendapat perhatian lebih atau paling tidak sama dengan petani yang ada di luar kawasan hutan,” ujar Sudarlim.

Sudarlim juga menyoroti keterbatasan fasilitas pascapanen. Tanpa alat pengering yang memadai, jagung hasil panen sulit memenuhi standar kualitas Bulog, sehingga petani tidak bisa menjual ke harga tertinggi.

“Yang kita harapkan ada fasilitas untuk proses pengolahan pascapanen, sehingga kita bisa mengakses Bulog dan mendapatkan harga maksimal,” katanya.

Groundbreaking Gudang dan Launching 166 SPPG Polri

Kunjungan Prabowo ke Tuban bukan hanya untuk panen raya. Dalam agenda yang sama, Presiden meresmikan groundbreaking 10 Gudang Ketahanan Pangan Polri sekaligus meluncurkan operasional 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri Tahun 2026. SPPG merupakan unit layanan yang bertugas memastikan ketersediaan dan distribusi gizi di tingkat satuan wilayah.

Sudarlim menyatakan optimistis program swasembada pangan yang dicanangkan Presiden Prabowo bisa berhasil. Bagi petani hutan Tuban, kehadiran langsung kepala negara di lahan mereka sudah menjadi sinyal bahwa pertanian rakyat kecil masuk dalam radar kebijakan nasional. Yang tersisa kini adalah realisasi fasilitas irigasi dan pascapanen yang selama ini mereka tunggu-tunggu.

Penulis: Dian Permata
Editor: Ratna Dewi