Internasional

Delegasi Trump Masuk China Tanpa Ponsel di Tengah Pengakuan AS Soal Perang Siber

11
×

Delegasi Trump Masuk China Tanpa Ponsel di Tengah Pengakuan AS Soal Perang Siber

Sebarkan artikel ini

Teras News — Delegasi Amerika Serikat yang dikirim Presiden Donald Trump ke China tiba tanpa membawa satu pun ponsel pribadi. Langkah keamanan ketat itu terjadi di tengah pengakuan terbuka Trump bahwa kedua negara tengah saling memata-matai secara intensif.

Trump: ‘Kami Memata-matai Mereka Habis-habisan’

Trump secara blak-blakan mengakui adanya aktivitas spionase dan perang siber antara Amerika Serikat dan China. “Kami memata-matai mereka habis-habisan,” kata Trump, seperti dilaporkan Sindonews. Pernyataan itu menjadi salah satu pengakuan paling terang-terangan dari seorang presiden Amerika Serikat soal praktik intelijen terhadap negara rival.

Pernyataan Trump bukan muncul dari ruang hampa. Hubungan AS-China di bidang siber dan spionase telah memanas selama bertahun-tahun. Amerika Serikat sebelumnya menuding China berada di balik sejumlah serangan siber besar terhadap infrastruktur pemerintah dan perusahaan swasta AS, termasuk pembobolan data di Office of Personnel Management pada 2015 yang menyebabkan jutaan data pegawai federal bocor.

Ponsel Pribadi Ditinggal, Risiko Penyadapan Terlalu Tinggi

Keputusan delegasi Trump untuk tidak membawa ponsel pribadi ke China mencerminkan betapa seriusnya ancaman penyadapan yang mereka antisipasi. Ini bukan prosedur baru di kalangan diplomat dan pejabat intelijen AS yang bepergian ke negara-negara dengan kapasitas siber tinggi — namun jarang diterapkan seeksplisit dan seterbuka ini.

Dalam praktik keamanan siber pemerintah, ponsel pribadi dianggap titik lemah utama. Perangkat yang terhubung ke jaringan lokal di negara asing bisa disadap, disusupi perangkat lunak mata-mata, atau dijadikan pintu masuk ke sistem komunikasi yang lebih sensitif. Badan Keamanan Nasional AS (NSA) selama ini merekomendasikan agar pejabat pemerintah yang bepergian ke China atau Rusia menggunakan perangkat khusus yang disiapkan dengan protokol keamanan ketat.

Langkah ini memperlihatkan bahwa meski negosiasi atau kunjungan diplomatik berlangsung, kewaspadaan intelijen tetap berjalan penuh di kedua sisi.

Persaingan Siber AS-China Makin Terbuka

Pernyataan Trump soal saling memata-matai memperkuat gambaran bahwa persaingan siber antara Washington dan Beijing kini bergerak ke fase yang lebih terbuka. Selama ini, tuduhan dan bantahan soal spionase siber biasanya dibungkus bahasa diplomatik. Trump memilih jalur yang berbeda.

China konsisten membantah tuduhan serangan siber dari pihak AS dan kerap membalas dengan menuding Amerika Serikat sebagai pelaku peretasan global terbesar. Dokumen yang dibocorkan Edward Snowden pada 2013 lalu sempat memperkuat narasi Beijing tersebut, dengan mengungkap program pengawasan masif NSA yang menjangkau banyak negara.

Situasi ini menempatkan kunjungan delegasi Trump ke China dalam konteks yang lebih kompleks dari sekadar pertemuan diplomatik biasa. Di meja perundingan mereka berbicara, sementara di dunia maya pertarungan terus berjalan.

Penulis: Dian Permata
Editor: Arif Budiman