Berita

70 Persen Kontainer Jateng Masih Lewat Tanjung Priok, Gubernur Luthfi Desak Pembenahan Pelabuhan

11
×

70 Persen Kontainer Jateng Masih Lewat Tanjung Priok, Gubernur Luthfi Desak Pembenahan Pelabuhan

Sebarkan artikel ini

Teras News — 70 persen. Angka itu mencerminkan seberapa besar ketergantungan arus kontainer Jawa Tengah terhadap Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, sementara Pelabuhan Tanjung Emas Semarang yang jauh lebih dekat hanya melayani sekitar 30 persen sisanya. Ketimpangan ini membuat biaya logistik industri di Jawa Tengah membengkak, dan kini menjadi perhatian serius pemerintah provinsi maupun pusat.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyuarakan keprihatinan itu dalam Rapat Koordinasi Sistem Logistik Berbasis Laut yang digelar di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (11/5/2026). Rapat menghadirkan pejabat dari Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Kementerian Perhubungan, hingga kepala daerah dari Semarang, Kendal, Demak, dan Batang.

“Ini yang ingin kita ubah. Karena nanti makin banyak kawasan industri, makin banyak tenant-nya, maka harus kita perbaiki pelabuhannya,” kata Luthfi.

Tiga Simpul Logistik yang Jadi Tumpuan

Rapat membahas tiga titik infrastruktur yang dinilai krusial: Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Pelabuhan Kendal, dan dry port (pelabuhan darat) di Batang. Ketiganya diposisikan sebagai simpul distribusi yang bisa memangkas ongkos pengiriman barang jika dikembangkan secara serius.

Pelabuhan Kendal dan dry port Batang mendapat sorotan khusus karena tingkat hunian kawasan industrinya terus meningkat. Tanpa dukungan infrastruktur logistik yang memadai, lonjakan aktivitas industri di dua wilayah itu justru berpotensi menekan efisiensi biaya produksi para pelaku usaha.

Pemerintah Pusat Akui Biaya Logistik Ganggu Investasi

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, hadir langsung dalam rapat dan mengakui pentingnya pembenahan ini. Menurutnya, biaya logistik bukan sekadar urusan pelabuhan, melainkan menyentuh langsung daya saing seluruh rantai produksi.

“Salah satu hal yang perlu kita kembangkan dan kita support untuk wilayah Jawa Tengah ini, adalah pengembangan Pelabuhan Tanjung Emas,” ujar Todotua.

Todotua memastikan kementeriannya akan berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk mendorong penyelesaian masalah ini. Bagi investor yang sudah beroperasi maupun yang tengah mempertimbangkan masuk ke Jawa Tengah, efisiensi ongkos kirim barang menjadi salah satu faktor penentu keputusan.

Dampak ke Pelaku Usaha dan Kawasan Industri

Bagi pelaku industri di Jawa Tengah, rute kontainer yang memutari Jakarta bukan pilihan efisien. Jarak tempuh lebih jauh berarti waktu pengiriman lebih lama dan biaya angkut lebih tinggi. Kondisi itu menggerus margin keuntungan, terutama bagi industri padat logistik seperti tekstil, elektronik, dan manufaktur.

Luthfi menegaskan sudah mendorong pemerintah pusat untuk mempercepat pembenahan infrastruktur logistik berbasis laut ini. Apalagi, pertumbuhan kawasan industri di Jawa Tengah terus berlanjut, dan kebutuhan akan jalur distribusi yang efisien hanya akan makin besar ke depannya.

Rapat Senin (11/5/2026) itu diikuti jajaran pejabat eselon II Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Kemenhub Wilayah Jawa Tengah, serta perangkat daerah provinsi. Hasilnya akan menjadi bahan koordinasi lintas kementerian untuk menentukan prioritas dan skema pembiayaan pengembangan ketiga simpul logistik tersebut.

Penulis: Dian Permata
Editor: Surya Dharma