Internasional

Prabowo di KTT ASEAN ke-48: Ancaman El Nino Ekstrem Bisa Guncang Ketahanan Pangan Kawasan

11
×

Prabowo di KTT ASEAN ke-48: Ancaman El Nino Ekstrem Bisa Guncang Ketahanan Pangan Kawasan

Sebarkan artikel ini

Teras News — Presiden Prabowo Subianto mengingatkan seluruh pemimpin ASEAN soal ancaman El Nino ekstrem yang berpotensi menghantam ketahanan pangan jutaan warga di kawasan Asia Tenggara. Peringatan itu disampaikan dalam sesi pleno KTT ke-48 ASEAN yang berlangsung di Mactan Expo, Cebu, Filipina, Jumat (8/5/2026).

“Kita telah diperingatkan oleh organisasi internasional tentang risiko El Nino yang sangat ekstrem yang mengintai di depan kita. Dalam hal ini, ketahanan pangan menjadi semakin mendesak,” kata Prabowo di hadapan para kepala negara dan pemerintahan ASEAN.

El Nino Ancam Pasokan Pangan Rakyat Asia Tenggara

El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang secara historis memicu kekeringan panjang di sebagian besar wilayah Asia Tenggara. Ketika kekeringan melanda, produksi beras dan bahan pangan pokok lainnya anjlok, sehingga harga di pasar melonjak dan warga berpendapatan rendah paling merasakan dampaknya.

Prabowo menegaskan, tidak ada satu negara pun yang mampu menghadapi ancaman ini sendirian. Koordinasi kawasan menjadi keharusan, bukan pilihan.

“Ini bukan tantangan yang bisa ditangani oleh satu negara saja. ASEAN harus bertindak bersama. Hal ini juga membutuhkan penyederhanaan ASEAN Plus Three Cadangan Beras Darurat. Kita harus memajukan cadangan pangan berbasis cadangan lokal kita,” ujarnya.

Indonesia Tegaskan Pangan sebagai Tanggung Jawab Penuh Negara

Dalam forum yang sama, Prabowo mendorong ASEAN memperkuat beberapa hal sekaligus: pertukaran informasi antarnegara, diversifikasi sumber pangan, pengembangan teknologi pertanian, serta optimalisasi cadangan pangan regional.

Ia juga menyinggung pentingnya menjaga stabilitas jalur perdagangan di perairan kawasan. “Kita harus ingat bahwa wilayah kita memiliki jalur perdagangan strategis yang melewati perairan kita, dan kita harus berhati-hati agar tidak terjadi gangguan di wilayah kita sendiri,” kata Prabowo.

Soal posisi Indonesia, Presiden berbicara tegas. Ketahanan pangan bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan menyangkut kemerdekaan dan perdamaian bangsa.

“Bagi kami, ini adalah tanggung jawab utama pemerintah, dan Pemerintah Indonesia bertekad untuk memikul tanggung jawab penuh dan kedaulatan penuh atas sektor vital ini. Tanpa pangan, pada dasarnya tidak ada masyarakat. Tanpa pangan, tidak ada kemerdekaan. Tanpa pangan, tidak ada perdamaian,” tandas Prabowo.

KTT ke-48 ASEAN di Cebu menjadi ajang bagi para pemimpin kawasan untuk merumuskan respons bersama terhadap berbagai tekanan global, mulai dari perubahan iklim hingga gejolak rantai pasokan pangan yang masih berlangsung pascapandemi. Sejauh mana seruan Prabowo akan diterjemahkan menjadi kesepakatan konkret di tingkat ASEAN, publik di seluruh kawasan kini menantikan hasilnya.

Penulis: Siti Rahma
Editor: Ratna Dewi