Internasional

Harga Minyak Dunia Bergolak, 7 Hari Krisis Selat Hormuz Antara AS dan Iran

5
×

Harga Minyak Dunia Bergolak, 7 Hari Krisis Selat Hormuz Antara AS dan Iran

Sebarkan artikel ini

Teras News — Harga minyak mentah jenis Brent sempat melonjak ke US$126 per barel sebelum akhirnya turun ke US$110 per barel, mencerminkan betapa tegangnya situasi di Selat Hormuz dalam sepekan terakhir. Jalur laut yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia itu menjadi arena adu kekuatan antara Amerika Serikat dan Iran, dengan dampak langsung yang terasa hingga ke pom bensin di seluruh AS.

Ketegangan bermula ketika negosiasi antara Washington dan Teheran berjalan di tempat. Harga bahan bakar di AS melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir, sementara kapal-kapal komersial terdampar di tengah sengketa perebutan kendali atas jalur perairan strategis itu. Rangkaian peristiwa berikut menggambarkan perjalanan tujuh hari krisis tersebut, seperti dilaporkan The Guardian pada Jumat (8/5/2026).

Gencatan Senjata Masih Bertahan, Iran Kirim Tawaran Baru Lewat Pakistan

Awal Mei dimulai dengan kondisi yang relatif tenang. Gencatan senjata yang ada masih bertahan ketika tenggat waktu kekuasaan perang hampir habis. Seorang pejabat pemerintahan Trump menyatakan bahwa permusuhan AS terhadap Iran telah “dihentikan,” merujuk pada gencatan senjata tersebut.

Dari Teheran, media pemerintah Iran melaporkan bahwa pihaknya telah menyerahkan tawaran perdamaian baru kepada Pakistan untuk diteruskan ke Washington. Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap persyaratan yang ditawarkan, tanpa merinci isinya.

“Saat ini, kami sedang melakukan pembicaraan, namun mereka tidak kunjung mencapai kesepakatan,” kata Trump dalam pernyataannya.

Trump Sebut Angkatan Laut AS “Seperti Bajak Laut” Soal Kapal Iran

Situasi berubah ketika Trump melontarkan pernyataan yang mengundang kontroversi dalam sebuah rapat umum di Florida. Ia menggambarkan operasi penyitaan kapal Iran terbaru dengan menyebut Angkatan Laut AS bertindak “seperti bajak laut.”

Trump justru membanggakan aksi tersebut sebagai keberhasilan bisnis. Ia merinci bagaimana pasukan AS mendarat di atas kapal Iran dan mengambil alih seluruh muatan.

“Kami mendarat di atasnya dan kami mengambil alih kapal itu. Kami mengambil alih kargonya, mengambil alih minyaknya. Ini adalah bisnis yang sangat menguntungkan,” tutur Trump.

Pada hari yang sama, harga minyak Brent berada di US$110 per barel, turun dari posisi US$126 beberapa hari sebelumnya. Pentagon juga mengumumkan rencana penarikan 5.000 tentara dari Jerman di tengah dinamika tersebut.

“Project Freedom” Diluncurkan, Iran Langsung Balas dengan Peringatan Keras

Melihat negosiasi buntu, Trump mengumumkan peluncuran “Project Freedom”. Proyek ini dirancang untuk memandu kapal-kapal yang terdampar agar bisa keluar dari Selat Hormuz yang selama ini dicekik oleh Iran, sementara AS membalas dengan memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.

Komando Pusat AS (CENTCOM) kemudian memberi klarifikasi bahwa peran militer dalam proyek ini terbatas pada koordinasi dan pemanduan kapal yang terjebak, bukan pengawalan menggunakan aset angkatan laut secara langsung. Trump mengklaim perwakilan AS sedang terlibat dalam diskusi yang “sangat positif” dengan Iran.

Respons Teheran tidak butuh waktu lama. Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, langsung mengeluarkan peringatan keras terhadap proyek tersebut.

Tujuh hari krisis Selat Hormuz ini menempatkan pasar energi dunia dalam ketidakpastian. Dengan negosiasi yang belum menghasilkan kesepakatan dan “Project Freedom” baru saja diluncurkan, situasi di jalur pelayaran tersibuk dunia itu masih jauh dari kata stabil.

Penulis: Novia Anggraini
Editor: Arif Budiman