Teras News — Presiden Prabowo Subianto menyerukan penguatan dialog dan negosiasi sebagai pendekatan utama menghadapi dua isu panas di kawasan Asia Tenggara: krisis politik Myanmar dan ketegangan perbatasan antara Thailand dan Kamboja. Seruan itu disampaikan Prabowo dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN.
“Daripada kita mempertajam perbedaan-perbedaan di antara kita, biarlah urusan legal itu terus berjalan, tapi in the meantime kenapa kita tidak mencari hal-hal yang positif yang bisa kita kerja samakan yang kemudian bisa memberi manfaat bagi masyarakat dan rakyat negara masing-masing,” kata Menteri Luar Negeri Sugiono, mengutip pandangan Presiden Prabowo, Sabtu, seperti disampaikan melalui keterangan resmi Sekretariat Presiden.
Posisi Indonesia: Pemilu Myanmar Harus Inklusif dan Berorientasi Damai
Para pemimpin ASEAN dalam KTT tersebut membahas perkembangan terbaru di Myanmar, terutama seputar pelaksanaan pemilu dan pembentukan pemerintahan baru di negara itu. Indonesia, sejak awal, mengambil posisi tegas bahwa proses politik di Myanmar harus berjalan secara inklusif dan mengarah pada perdamaian.
Baca Juga:
“Dari awal posisi Indonesia adalah jika pemilu tersebut berlangsung, pemilu yang dilangsungkan harus inklusif, kemudian mampu meng-adress masalah-masalah yang ada di sana, kemudian juga mampu membawa perdamaian, kemudian bisa menciptakan suatu situasi yang lebih baik,” ujar Menlu Sugiono.
Indonesia juga menegaskan kembali pentingnya pelaksanaan five point consensus (konsensus lima poin) ASEAN sebagai kerangka utama penyelesaian krisis Myanmar. Konsensus ini merupakan kesepakatan yang dicapai para pemimpin ASEAN sejak 2021, mencakup penghentian kekerasan, dialog inklusif, akses bantuan kemanusiaan, penunjukan utusan khusus, dan kunjungan ke Myanmar.
Enam Ribu Tahanan Politik Dibebaskan, Status Suu Kyi Berubah
Di tengah pembahasan itu, sejumlah perkembangan dari pihak Myanmar turut disoroti. Pemerintahan baru Myanmar dilaporkan melakukan beberapa langkah yang dinilai positif oleh para pemimpin ASEAN.
“Setelah pemilu, ada beberapa gesture positif yang dinilai juga perlu diapresiasi yang dilakukan oleh pemerintah baru, yaitu di antaranya pembebasan, kalau angka yang disebut oleh pihak Myanmar, sekitar enam ribu lebih tahanan politik, kemudian juga perubahan status tahanan dari Aung San Suu Kyi,” kata Menlu Sugiono.
Perkembangan itu, menurut Sugiono, dipandang sebagai bagian dari pemenuhan komitmen dalam five point consensus. Para pemimpin ASEAN pun mendiskusikan langkah-langkah terukur untuk terus mendorong perbaikan di Myanmar.
“Pada intinya semua berpendapat, sepaham bahwa sebagai satu keluarga dalam sebuah kawasan ASEAN, negara-negara anggota harus terus memberikan perhatiannya, concern-nya, dan terus meng-engage Myanmar untuk bisa menemukan jalan yang mereka tentukan sendiri dalam rangka memperbaiki situasi negaranya,” kata Sugiono.
Ketegangan Thailand-Kamboja Masuk Agenda KTT
Isu perbatasan antara Thailand dan Kamboja juga masuk dalam pembahasan KTT. Prabowo turut menyampaikan pandangannya: persoalan perbatasan sebaiknya tidak diselesaikan dengan cara mempertajam perbedaan, melainkan melalui pendekatan dialog, negosiasi, dan kerja sama yang menghasilkan manfaat nyata bagi rakyat kedua negara.
Pendekatan ini mencerminkan garis konsisten Indonesia dalam forum ASEAN, yakni mendahulukan rekonsiliasi dan kepentingan rakyat di atas sengketa hukum yang berkepanjangan.
KTT ke-48 ASEAN menjadi forum penting bagi Indonesia untuk memperjelas posisinya di dua isu kawasan yang belum menemukan titik penyelesaian. Bagaimana respons Myanmar dan kelanjutan negosiasi Thailand-Kamboja akan menjadi penentu sejauh mana pendekatan dialog yang didorong Prabowo dapat menghasilkan perubahan nyata di lapangan.
Editor: Ratna Dewi