Teras News — Sebanyak 1,9 juta balita di Jawa Tengah kini terpantau rutin lewat program penimbangan, sementara prevalensi stunting di provinsi itu terus merosot hingga berada di bawah rata-rata nasional. Capaian inilah yang mengantarkan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meraih National Governance Award 2026 dalam kategori penanganan stunting.
Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar kepada Ahmad Luthfi dalam ajang National Governance Award 2026: Sinergi Nusantara untuk Indonesia, di The Ritz-Carlton Hotel, Jakarta, Jumat (25/4/2026) malam.
Prevalensi Stunting Jateng 17,1 Persen, di Bawah Angka Nasional 19,8 Persen
Angkanya berbicara cukup jelas. Survei Status Gizi Indonesia 2024 mencatat prevalensi stunting Jawa Tengah berada di 17,1 persen, turun dari 20,7 persen pada tahun sebelumnya. Angka nasional pada periode yang sama masih bertengger di 19,8 persen, artinya Jateng berhasil melampaui target penurunan rata-rata nasional.
Baca Juga:
Stunting, atau tengkes, adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Dampaknya tidak hanya pada tinggi badan, tetapi juga pada perkembangan otak dan kemampuan kognitif anak dalam jangka panjang.
Ahmad Luthfi menyebut capaian ini sebagai hasil kerja kolektif, bukan prestasi satu pihak. “Maka, kolaborasi dengan 369 rumah sakit untuk bersama-sama mengintegrasikan dengan puskesmas, laboratorium, kemudian dengan stakeholder yang lain semua hingga di tingkat desa perlu dilakukan,” katanya usai menerima penghargaan.
Program Speling Jangkau 1.030 Desa di 440 Kecamatan
Salah satu program yang paling menonjol dalam upaya penurunan stunting di Jateng adalah Speling, singkatan dari dokter spesialis keliling. Program ini membawa layanan dokter spesialis langsung ke desa-desa, memangkas hambatan jarak, biaya, dan sulitnya akses ke fasilitas kesehatan rujukan bagi warga pedesaan.
Per 21 April 2026, Speling telah menjangkau 1.030 desa di 440 kecamatan dengan total sasaran 97.506 orang. Program ini mengintegrasikan skrining awal, pelayanan spesialis, hingga sistem rujukan rumah sakit dalam satu alur.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yunita Dyah Kusminar, menjelaskan bahwa dampak Speling terasa langsung pada angka stunting. “Prevalensi stunting cukup menurun. Kalau kita lihat di e-PPGBM, ada 1,9 juta balita yang ditimbang pada saat ini,” jelas Yunita.
Yunita menambahkan, Gubernur Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin mendorong seluruh fasilitas kesehatan di Jateng, baik milik pemerintah maupun swasta, untuk ikut melayani masyarakat. “Semua terlayani dengan baik, cek kesehatan gratis, speling, dan pada akhirnya berdampak pada mutu pelayanan, dan akses layanan kesehatan di Jawa Tengah,” ujarnya.
Cek Kesehatan Gratis Sentuh 14,2 Juta Warga pada 2025
Speling berjalan seiring program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Sepanjang 2025, CKG di Jawa Tengah menjangkau 14.297.407 orang atau 37,73 persen dari target. Angka itu menunjukkan skala layanan preventif yang dijalankan Pemprov Jateng secara masif.
Berbagai intervensi lain juga dijalankan paralel: skrining anemia pada remaja putri, pemberian tablet tambah darah (TTD) untuk remaja putri dan ibu hamil, pemeriksaan kehamilan rutin, pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK), hingga pemantauan pertumbuhan balita secara berkala. Program Fastrack Rumah Sakit dan dukungan pembiayaan kesehatan lintas sektor turut memperkuat ekosistem layanan tersebut.
Jawa Tengah, provinsi dengan jumlah penduduk sekitar 37 juta jiwa dan salah satu yang terbesar di Indonesia, selama ini menghadapi tantangan besar dalam pemerataan layanan kesehatan karena luasnya wilayah dan beragamnya kondisi geografis antardaerah.
Dengan prevalensi stunting yang kini berada di bawah angka nasional, Pemprov Jateng masih menyisakan pekerjaan rumah: mempertahankan tren penurunan tersebut sekaligus memperluas jangkauan program hingga ke desa-desa yang belum tersentuh layanan dokter spesialis.
Editor: Surya Dharma