Teras News — Jumat (25/4/2026), di tengah hamparan laut yang dulu adalah sawah, seorang perempuan 56 tahun masih berdiri di atas tanah yang tersisa di Dusun Rejosari Senik, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Namanya Pasijah, tapi semua orang memanggilnya Mak Jah. Dari sekitar 200 kepala keluarga yang dulu menghuni dusun itu, hanya keluarganya yang tidak pergi.
Desa Subur yang Hilang Ditelan Rob Sejak Tahun 2000
Mak Jah masih ingat betul seperti apa kampungnya dulu. Ada hamparan sawah, tanaman pisang, cabai, pepaya, kelapa, dan palawija yang menjadi tulang punggung warga. Lalu sekitar tahun 2000, air rob (banjir akibat air laut pasang) mulai rutin datang.
“Dulu desa ini awalnya petani, ada sawah, palawija, semuanya ada. Tapi sejak tahun 2000 mulai sering kena rob. Lama-lama airnya makin naik, makin tinggi,” kisahnya saat ditemui Jumat (25/4).
Baca Juga:
Sekitar tahun 2010, kondisi sudah tak terkendali. Sebagian besar wilayah tenggelam. Warga angkat kaki satu per satu. Mak Jah memilih tinggal.
Menanam Mangrove Sendirian, Bibit pun Dibuat Sendiri
Bukan pasrah, Mak Jah justru mulai menanam mangrove secara mandiri di sekitar rumahnya. Pelan-pelan, sedikit demi sedikit.
“Saya mulai tanam sedikit demi sedikit. Karena kurang bibit, saya buat sendiri. Alhamdulillah berkembang. Ada juga yang kirim dari jauh,” ungkapnya.
Kini kawasan sekitar rumahnya sudah ditumbuhi mangrove yang berfungsi menahan abrasi, sekaligus menjadi habitat ikan, kepiting, udang, dan burung. Kerja bertahun-tahun itu membuat Mak Jah dikenal sebagai “Kartini Laut Sayung”.
Perahu 30 Menit ke Daratan, Rumah Ditinggikan Pakai Semen
Hidup di tengah laut bukan tanpa konsekuensi. Setiap hari, Mak Jah harus mendayung perahu selama 15 hingga 30 menit untuk mencapai daratan, lalu melanjutkan perjalanan bersepeda ke pasar. Kalau ombak besar, perjalanan itu tidak bisa dilakukan.
“Kalau ombak besar ya sulit. Kadang tidak bisa tidur. Tapi saya sudah terbiasa. Yang penting sehat dan bisa bekerja,” tutur Mak Jah.
Rumahnya pun dipertahankan dengan cara yang paling sederhana: ditinggikan sedikit demi sedikit menggunakan pasir dan semen. Material dari rumah-rumah tetangga yang sudah roboh turut dimanfaatkan untuk memperkuat bangunan.
Gubernur Ahmad Luthfi Beri Hadiah Rumah Apung
Perjuangan Mak Jah sampai ke telinga Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kemudian memberikan bantuan berupa rumah apung.
“Awalnya saya dipanggil, katanya mau dibantu rumah. Saya minta anak saya yang mengurus. Alhamdulillah langsung diberikan,” paparnya.
Rumah apung itu kini berfungsi sebagai tempat berlindung saat rob sedang tinggi, sekaligus mendukung aktivitas Mak Jah merawat mangrove di sekitar lokasi.
“Senang sekali. Kalau rob besar bisa dipakai untuk tinggal. Saya akan tetap merawat mangrove ke depan,” ujarnya.
Dilansir dari laporan Jateng Prov.
Editor: Arif Budiman