Berita

147 Tahun Kartini: DWP Jateng Ingatkan Perempuan soal Perjuangan Intelektual yang Kerap Terlupakan

15
×

147 Tahun Kartini: DWP Jateng Ingatkan Perempuan soal Perjuangan Intelektual yang Kerap Terlupakan

Sebarkan artikel ini

Teras News — 147 tahun sudah nama RA Kartini dirayakan setiap 21 April, namun Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Jawa Tengah menilai esensi perjuangan Kartini masih sering kabur di balik seremoni kebaya. Kegelisahan itulah yang mendorong DWP Jateng menggelar talk show bertema Kartini Masa Kini: Perempuan, Perubahan, dan Peran Publik di Kantor DWP Jateng, Kota Semarang, Kamis (23/4/2026).

Kartini Bukan Sekadar Simbol Kebaya

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jawa Tengah, Ema Rachmawati, tampil sebagai narasumber. Ia langsung menyoroti kesalahpahaman yang sudah lama beredar di masyarakat.

“Padahal, pemikiran Kartini jauh melampaui itu. Ia adalah pelopor emansipasi yang memperjuangkan pendidikan, keadilan sosial, dan kebebasan berpikir perempuan di tengah adat yang membatasi,” kata Ema.

Ema menjelaskan, Kartini kerap dianggap antitradisi atau mendorong perempuan meninggalkan peran domestik. Anggapan itu keliru. Lewat kumpulan suratnya, Kartini justru mengkritik praktik pingitan, pernikahan dini, dan minimnya akses pendidikan bagi perempuan, sekaligus memperjuangkan beasiswa, pendidikan kebidanan, serta kemandirian ekonomi lewat keterampilan seperti membatik dan kerajinan tangan.

“Isu yang diangkat Kartini masih relevan sampai sekarang, mulai dari kemiskinan, kekerasan terhadap perempuan, hingga ketidakadilan sosial,” jelas Ema.

Pemikiran Kritis Kartini Dinilai Belum Tersebar Luas

Ketua DWP Jateng, Indah Sumarno, mengaku baru memahami kedalaman pemikiran Kartini setelah mengikuti diskusi itu. Baginya, peringatan selama ini terlalu berhenti pada tampilan luar.

“Ternyata setelah kita dalami dari narasumber Bu Ema, ternyata banyak pemikiran kritis beliau yang belum tersebar luas ke masyarakat. Ini yang harus dipelajari lebih lanjut,” ujar Indah di lokasi acara.

Indah juga menekankan betapa luar biasanya gagasan yang lahir dari perempuan semuda Kartini. Usia tidak menghalanginya berpikir jauh melampaui zamannya.

“Karena perempuan yang punya pemikiran yang kritis, maju, punya potensi kecerdasan, itu dapat menularkan kecerdasannya kepada generasi selanjutnya. Ini menjadi modal bagi suatu bangsa untuk maju,” tambah Indah.

Kiprah Perempuan di Ruang Publik, Buah Perjuangan Abad Lalu

Indah turut menyoroti perubahan nyata yang kini bisa dilihat. Perempuan sudah mengisi banyak posisi di sektor kesehatan, hukum, dan berbagai bidang lainnya. Dulu, kata Indah, itu hampir mustahil karena akses pendidikan yang tertutup rapat bagi perempuan.

“Dulu hal itu sulit terjadi karena keterbatasan akses pendidikan. Sekarang, itu adalah buah dari perjuangan Kartini,” tegasnya.

Dilansir dari laporan Jateng Prov.

Penulis: Arif Budiman
Editor: Ratna Dewi