Internasional

Warga Iran Hidup dalam Ketakutan dan Tekanan Ekonomi Pascaserangan AS-Israel

4
×

Warga Iran Hidup dalam Ketakutan dan Tekanan Ekonomi Pascaserangan AS-Israel

Sebarkan artikel ini

Meski Selat Hormuz telah dibuka kembali dan gencatan senjata mulai berlaku, kehidupan warga Iran masih diwarnai ketakutan dan ketidakpastian. Toko-toko, restoran, dan kantor pemerintah tetap beroperasi. Taman-taman kota ramai dengan keluarga yang berpiknik dan anak muda yang berolahraga. Namun di balik pemandangan itu, ekonomi Iran disebut hancur dan tekanan sosial terus membayangi masyarakat.

Menteri Luar Negeri Iran pada Jumat (17/4/2026) menyatakan Selat Hormuz telah dibuka menyusul kesepakatan gencatan senjata untuk Lebanon. Pada hari yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang Iran akan segera tercapai.

Pembicaraan lebih lanjut antara AS dan Iran diharapkan menghasilkan perpanjangan masa gencatan senjata yang ditetapkan selama dua pekan tersebut. Namun Trump juga menyebutkan kemungkinan tidak akan memperpanjang gencatan senjata itu.

AS Tegaskan Blokade, Iran Ancam Tutup Selat Hormuz

Ketegangan belum sepenuhnya reda. AS menegaskan akan tetap memblokade pelabuhan Iran meski gencatan senjata berlaku. Merespons pernyataan itu, Iran mengancam akan kembali menutup Selat Hormuz jika blokade AS diteruskan.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi pasokan minyak global. Iran menegaskan kendalinya atas jalur tersebut setelah bertahan dari serangan intensif selama berminggu-minggu dari AS dan Israel.

Ribuan Korban Jiwa, Infrastruktur Hancur

Dilansir dari laporan Reuters, Sabtu (18/4/2026), serangan AS dan Israel terhadap Iran telah menewaskan ribuan orang berdasarkan jumlah korban resmi. Di antara korban tersebut, banyak orang tewas di sebuah sekolah pada hari pertama konflik. Serangan itu juga menghancurkan infrastruktur di seluruh negeri dan meningkatkan prospek pemutusan hubungan kerja massal.

Kesulitan ekonomi yang memicu kerusuhan massal pada Januari 2026 diprediksi akan semakin memburuk ke depannya.

Warga Angkat Bicara, Khawatir Tekanan Berlanjut

Seorang pria berusia 37 tahun bernama Fariba, yang ikut serta dalam demonstrasi Januari 2026, berbicara kepada Reuters melalui telepon dari Iran.

“Perang akan berakhir, tetapi justru saat itulah masalah nyata kita dengan sistem dimulai. Saya sangat khawatir jika rezim mencapai kesepakatan dengan AS, hal itu akan meningkatkan tekanan pada rakyat biasa,” kata Fariba.

Fariba juga menyampaikan bahwa ketegangan antara warga dan pemerintah belum mereda. “Rakyat belum melupakan kejahatan rezim pada Januari lalu, dan sistem belum melupakan bahwa rakyat tidak menginginkannya. Mereka menahan diri sekarang karena mereka tidak ingin berperang di dalam negeri juga,” ujarnya.

Penindakan brutal terhadap para demonstran pada Januari 2026 disebut sebagai salah satu faktor yang terus membayangi kondisi sosial Iran saat ini.

Analis: Perang Tidak Gulingkan Rezim tapi Perburuk Ekonomi Warga

Omid Memarian, analis Iran, turut memberikan komentar mengenai kondisi terkini. “Rakyat Iran memahami bahwa perang ini tidak akan menggulingkan rezim, tetapi pada saat yang sama, perang ini akan membuat kehidupan mereka jauh lebih buruk secara ekonomi,” kata Memarian.

Meski menghadapi serangan intensif dari AS dan Israel selama berminggu-minggu, pemerintah Iran disebut tampak semakin menguat posisinya setelah berhasil bertahan dan menegaskan kendali atas pasokan minyak global melalui Selat Hormuz.

Dilansir dari laporan Reuters dan CNBC Indonesia.