Teras News — Warga sipil Iran yang terdampak serangan militer Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari lalu kini bergantung pada seberapa cepat jalur diplomatik bisa dibuka. Di tengah kebuntuan perundingan dan blokade pelabuhan yang diperparah AS, Oman mengambil posisi aktif sebagai penengah.
Sultan Oman Haitham bin Tariq Al Said menerima Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Muscat, Minggu (27/4). Pertemuan itu membahas berbagai inisiatif para mediator untuk menyelesaikan konflik regional yang terus bergejolak. Kantor berita Oman, ONA, melaporkan bahwa Sultan Haitham menguraikan sejumlah pendekatan untuk memperkuat upaya-upaya tersebut, meningkatkan prospek resolusi politik yang langgeng, sekaligus mengurangi dampak krisis terhadap penduduk di kawasan.
Araghchi menyampaikan rasa terima kasih kepada Oman atas peran mediasi dan dukungannya terhadap penyelesaian konflik secara diplomatik, masih menurut laporan ONA.
Baca Juga:
Kronologi: Serangan 28 Februari, Gencatan Senjata 7 April, Lalu Blokade
Konflik ini bermula ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran pada 28 Februari, mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa di kalangan warga sipil. Tekanan internasional mendorong Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan pada 7 April.
Namun gencatan senjata itu tidak melahirkan perdamaian. Perundingan yang berlangsung di Islamabad berakhir tanpa hasil konkret. Meski tidak ada pengumuman resmi dari kedua pihak soal dimulainya kembali permusuhan, AS justru memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sebuah langkah yang memperumit posisi Tehran secara ekonomi dan diplomatik sekaligus.
Oman, Mediator yang Tidak Pernah Memihak
Oman dikenal sebagai salah satu negara Teluk yang secara historis memilih jalur netralitas dalam konflik kawasan. Muscat kerap menjadi jembatan komunikasi antara Tehran dan pihak Barat, termasuk dalam negosiasi program nuklir Iran di masa lalu. Peran itu kini kembali diaktifkan di tengah ketegangan yang meningkat.
Sultan Haitham dalam pertemuan tersebut menekankan pentingnya memprioritaskan dialog dan diplomasi untuk mengatasi berbagai tantangan yang ada. Penekanan pada kata “dialog” bukan tanpa alasan: jalur militer maupun sanksi ekonomi terbukti belum menghasilkan stabilitas bagi warga sipil di kawasan konflik.
Situasi di lapangan masih jauh dari stabil. Blokade pelabuhan Iran yang diberlakukan AS terus membebani distribusi barang ke dalam negeri, sementara upaya perundingan belum menemukan momentum baru setelah kebuntuan di Islamabad. Semua pihak kini menunggu apakah inisiatif Muscat mampu membuka kembali ruang negosiasi yang selama ini tersumbat.
Editor: Ratna Dewi