Teras News — Delapan puluh persen hotel di Amerika Serikat melaporkan tingkat pemesanan di bawah ekspektasi hanya beberapa hari sebelum Piala Dunia FIFA 2026 bergulir. Turnamen yang selama ini dipromosikan sebagai mesin penggerak ekonomi raksasa kini menghadapi kenyataan berbeda di lapangan.
Survei American Hotel and Lodging Association mengungkap data yang mengkhawatirkan. Sebanyak 70 persen responden hotel menyebut hambatan visa dan gejolak geopolitik sebagai penyebab utama lemahnya permintaan. Di New York City, yang dijadwalkan menjadi lokasi partai final, pemesanan hotel baru mencapai sekitar 65 persen dari target. Seattle kondisinya lebih parah: sekitar 80 persen hotel masih tertinggal dibandingkan tingkat pemesanan musim panas normal. Vancouver, Kanada, yang juga masuk daftar kota penyelenggara, menghadapi situasi serupa.
Bagi pemilik hotel kecil dan pelaku usaha lokal di sekitar venue pertandingan, lonjakan pemasukan yang mereka antisipasi bertahun-tahun terancam tidak terwujud sesuai harapan.
Baca Juga:
Visa Berbelit dan Kebijakan Imigrasi Trump Bikin Penggemar Ragu
Kekhawatiran wisatawan internasional bukan sekadar soal ongkos perjalanan. Kebijakan imigrasi Presiden Donald Trump disebut menjadi hambatan nyata. Pada April lalu, sejumlah organisasi termasuk American Civil Liberties Union (ACLU) mengeluarkan peringatan resmi bagi warga asing yang berniat bepergian ke AS untuk menyaksikan Piala Dunia. Kebingungan soal aturan visa dan laporan keterlambatan proses penerbitannya makin mempertebal ketidakpastian.
“Minat untuk bepergian dan membayar harga tiket yang tinggi semakin berkurang. Saya pikir ada juga beberapa isu geopolitik yang tentu saja membuat orang lebih waspada untuk bepergian ke AS dan menghabiskan uang di AS,” kata Mike Edwards, Profesor Manajemen Olahraga dari North Carolina State University, seperti dikutip Al Jazeera, Selasa (9/6/2026).
Wisatawan internasional selama ini menjadi kontributor belanja terbesar dalam setiap ajang olahraga global. Jika segmen ini menyusut tajam, dampaknya tidak hanya terasa di hotel, tetapi juga di restoran, transportasi, dan ribuan usaha kecil yang sudah mempersiapkan diri menyambut lonjakan pengunjung.
Harga Bensin Naik 40 Persen, Warga AS Pun Rem Pengeluaran
Tekanan tidak hanya datang dari luar negeri. Di dalam negeri, masyarakat AS sendiri sedang mengencangkan ikat pinggang. Harga bensin kini tercatat mencapai US$4,16 (sekitar Rp75.275) per galon, naik dari US$2,98 (sekitar Rp53.923) per galon pada akhir Februari. Kenaikan sekitar 40 persen dalam beberapa bulan, ditambah pasar tenaga kerja yang melambat, membuat warga lebih selektif membelanjakan uang untuk perjalanan dan hiburan.
Harga tiket pertandingan yang tinggi memperparah situasi ini. Bagi penggemar kelas menengah, menonton langsung di stadion bukan lagi pilihan mudah.
Airbnb Tetap Optimistis, Tapi Data Hotel Bicara Lain
Di tengah berbagai sinyal negatif itu, CEO Airbnb Brian Chesky menyatakan keyakinannya. Ia mengatakan perusahaan memperkirakan jumlah pemesanan selama Piala Dunia akan menjadi yang terbesar dalam hampir 18 tahun sejarah Airbnb.
Optimisme Chesky bertumpu pada tingginya harga akomodasi yang justru mencerminkan permintaan di segmen tertentu. Namun data hotel konvensional bercerita sebaliknya: sebagian besar properti masih jauh dari kapasitas penuh.
Piala Dunia 2026 digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, menjadikannya edisi pertama yang diselenggarakan oleh tiga negara sekaligus. Format baru ini diharapkan membuka peluang ekonomi yang lebih luas, namun tantangan yang muncul menjelang kick-off menguji seberapa jauh janji-janji itu bisa terpenuhi bagi warga dan pelaku usaha di kota-kota tuan rumah.
Editor: Arif Budiman

