Internasional

Limbah Tambang Logam Tanah Jarang di Myanmar dan Laos Cemari Sungai Mekong, 70 Juta Jiwa Terancam

11
×

Limbah Tambang Logam Tanah Jarang di Myanmar dan Laos Cemari Sungai Mekong, 70 Juta Jiwa Terancam

Sebarkan artikel ini

Teras News — Rabu (29/4/2026), ancaman senyap tengah merayap di sepanjang aliran Sungai Mekong. Limbah beracun dari tambang logam tanah jarang (rare earth) yang beroperasi tanpa pengawasan di Myanmar dan Laos mencemari anak-anak sungai Mekong, mengancam kesehatan sekitar 70 juta orang yang menggantungkan hidup pada perairan tersebut.

Sukjai Yana, nelayan berusia 75 tahun di Chiang Saen, Thailand utara, merasakannya langsung. Hasil tangkapannya kini sulit laku. Warga setempat takut mengonsumsi ikan dari sungai yang sudah lama menjadi sumber penghidupan keluarganya selama beberapa dekade. “Saya tidak tahu ke mana lagi saya harus pergi,” katanya.

Racun Logam Berat Mengalir dari Hulu ke Meja Makan

Para ahli memperingatkan bahwa air sungai kini mengandung arsenik, merkuri, timbal, dan kadmium dalam kadar berbahaya. Warakorn Maneechuket, peneliti dari Universitas Naresuan, menemukan tingkat logam berat yang berbahaya di perairan sekitar kawasan tersebut. Paparan jangka panjang terhadap zat-zat ini meningkatkan risiko kanker, kegagalan organ, serta gangguan perkembangan pada anak-anak dan ibu hamil.

Pemicunya adalah lonjakan permintaan global terhadap logam tanah jarang, material yang menjadi komponen penting dalam produksi smartphone, panel surya, dan kendaraan listrik. Booming teknologi hijau justru mendorong gelombang penambangan ilegal di kawasan hulu Mekong yang minim pengawasan regulasi.

Ekspor Beras Thailand Senilai Rp 172 Triliun di Ujung Tanduk

Thailand menjadi negara yang paling merasakan dampaknya. Sungai Kok, anak sungai Mekong yang mengalir dari wilayah Myanmar, menjadi sumber irigasi bagi ribuan petani di utara Thailand. Lah Boonruang, petani berusia 63 tahun yang mengairi ladangnya dari sungai itu, berbicara dengan nada putus asa. “Semua orang takut akan racun. Jika kami tidak bisa mengekspor, petani adalah pihak pertama yang akan mati,” ujarnya.

Thailand tercatat sebagai salah satu eksportir beras terbesar dunia bersama India dan Vietnam, dengan nilai ekspor beras dan buah-buahan melampaui US$ 10 miliar atau sekitar Rp 172,53 triliun pada 2024. Beras Thailand dijual di supermarket Amerika Serikat, sementara produk pertanian lainnya mengisi dapur-dapur di seluruh Asia Tenggara. Kawasan Mekong memang dikenal sebagai “Dapur Dunia” karena kontribusinya yang besar terhadap pangan regional dan global.

Niwat Roykaew, pendiri lembaga lingkungan The Mekong School, mengkhawatirkan skenario terburuk. “Kekhawatiran kami adalah racun menumpuk di beras yang kami ekspor. Ini akan membuat industri pertanian beras kami, yang merupakan budaya kami, runtuh,” tutur Roykaew.

Bangkok Akui Keterbatasan Hadapi Tambang di Luar Perbatasan

Pemerintah Thailand tidak tinggal diam, tetapi kapasitasnya untuk menindak sumber polusi ini sangat terbatas. Operasi tambang berlangsung di wilayah Myanmar dan Laos yang sedang dilanda konflik, membuat intervensi lintas batas nyaris mustahil secara diplomatik maupun teknis.

Aweera Pakkamart dari Departemen Pengendalian Pencemaran Thailand menyebutkan bahwa respons pemerintah terhambat oleh tiga kendala sekaligus: keterbatasan keahlian, minimnya informasi, dan kekurangan dana. Suebsakun Kidnukorn dari Universitas Mae Fah Luang menegaskan bahwa aktivitas tambang ini sedang menghancurkan tulang punggung ekonomi Asia Tenggara.

Sungai Mekong membentang hampir 5.000 kilometer, melintasi enam negara dari dataran tinggi Tibet hingga delta di Vietnam Selatan. Jutaan orang di sepanjang alirannya, termasuk komunitas nelayan dan petani di Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Laos, bergantung pada sungai ini untuk pangan, air minum, dan mata pencaharian. Tanpa tekanan regulasi dari komunitas internasional terhadap operasi tambang di Myanmar dan Laos, ancaman kontaminasi ini diperkirakan akan terus meluas seiring meningkatnya permintaan logam tanah jarang di pasar global.

Penulis: Indah Lestari
Editor: Ratna Dewi