Teras News — PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Pertamina (Persero) resmi memulai pembangunan pabrik pengolahan batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, pada Rabu (29/4/2026). Proyek ini dirancang untuk menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang mencapai jutaan ton per tahun.
“Proyek ini memiliki arti penting karena sudah masuk dalam proyek strategis nasional dengan kapasitas 1,4 juta ton DME ini setara dengan sekitar 1 juta ton LPG,” ujar Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, dalam sambutannya di Tanjung Enim.
Indonesia Hanya Mampu Suplai 12-15% Kebutuhan LPG dari Dalam Negeri
Angka itu mencerminkan betapa dalamnya ketergantungan Indonesia pada pasokan LPG luar negeri. Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina, Emma Sri Martini, menyebut pasokan LPG dari sumber domestik saat ini hanya mampu memenuhi 12 hingga 15 persen dari total kebutuhan nasional. Sisanya datang dari impor yang total volumenya mencapai 7 juta metrik ton per tahun.
Baca Juga:
“Tidak mudah Bapak-Ibu, kita tahu betul bahwa Indonesia masih net importer dan kita masih belum bisa swasembada energi, terkhusus LPG,” kata Emma dalam kesempatan yang sama.
Proyek Coal to DME ini dikelola oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dan melibatkan tiga entitas besar: Holding BUMN Pertambangan MIND ID, PTBA, serta Pertamina. Peresmian pembangunannya dilakukan bersamaan dengan 12 proyek hilirisasi lainnya.
Batu Bara Kualitas Rendah Jadi Bahan Baku Utama
Pabrik berdiri di kawasan Bukit Asam Industrial Estate (Beki) yang mencakup lahan seluas 585 hektare. Setiap tahun, fasilitas ini akan menyerap sekitar 7 juta ton batu bara kualitas rendah (low rank coal) dari tambang Tanjung Enim sebagai bahan bakunya.
Turino menjelaskan bahwa batu bara jenis ini selama ini belum banyak termanfaatkan. “Kami mengolah batu bara loreng, jadi batu bara yang memang belum terutilisasi selama ini dan jumlahnya di Indonesia banyak. Jadi sekali proyek ini berjalan insya Allah nanti kalau terus berkembang kita bisa me-utilisasi batubara low rank di Indonesia,” paparnya.
Teknologi yang dipakai adalah clean coal technology, yakni metode pengolahan batu bara yang diklaim mampu menekan emisi hingga 40 persen dibanding pembakaran konvensional. Seluruh produk DME yang dihasilkan akan diserap oleh PT Pertamina Patra Niaga selaku offtaker.
Target Beroperasi 2028, Pertamina Siap Jadi Pembeli Tetap
Emma menegaskan Pertamina siap bertindak sebagai pembeli siaga guna menjamin kepastian pasar bagi produk DME tersebut. Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi penuh pada 2028.
“Solusi coal to DME ini adalah solusi yang konkret mengoptimalkan sumber daya domestik, substitusi impor, meningkatkan ketahanan energi, multiplier efeknya, wider economic impact-nya nyata, dan memberikan social economic benefit yang sangat nyata,” ungkap Emma.
DME sendiri merupakan senyawa organik berbentuk gas yang karakteristiknya mirip dengan LPG sehingga dapat digunakan sebagai substitusi bahan bakar memasak rumah tangga tanpa perlu mengganti kompor secara menyeluruh. Pemerintah memasukkan proyek ini ke dalam daftar Proyek Strategis Nasional dalam kerangka Asta Cita, agenda prioritas pembangunan pemerintahan saat ini.
Jika target 2028 terpenuhi, Indonesia berpeluang memangkas volume impor LPG secara signifikan untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade terakhir. Kepastian itu kini bergantung pada kelancaran konstruksi di Tanjung Enim dalam dua tahun ke depan.
Editor: Surya Dharma