Teras News — Rabu (22/4/2026), dari wilayah pesisir sekitar operasional PT Badak NGL (Badak LNG), sebuah inovasi sederhana namun berdampak langsung bagi nelayan lokal mulai berjalan. Perusahaan pengolah gas alam cair itu memperkenalkan program Lestari Bahari yang mengubah ikan kecil seperti teri menjadi produk bernilai ekonomi, sekaligus mengolah limbah ikan menjadi pakan ternak.
Bagi warga pesisir, persoalannya selama ini bukan soal hasil tangkap. Ikan teri melimpah, tapi cepat busuk. Nilai jualnya anjlok ketika cuaca buruk menghalangi proses pengeringan konvensional. Program Lestari Bahari hadir untuk memutus rantai masalah itu.
Teknologi SOPAN TERI: Adopsi Prinsip Kilang LNG untuk Nelayan
Inti dari program ini adalah inovasi bernama SOPAN TERI, singkatan dari Sistem Optimalisasi Pengeringan dan Penyimpanan Terintegrasi. Alat ini terdiri dari tungku perebusan dan kontainer pengering yang cara kerjanya mengadopsi prinsip Economizer, yaitu pemanfaatan panas gas buang dari unit penyediaan steam (boiler) di Kilang Badak LNG. Prinsip industri berskala besar itu diterjemahkan ke dalam alat yang bisa dioperasikan di tingkat komunitas nelayan.
Baca Juga:
Hasilnya: pengeringan ikan bisa berjalan dalam berbagai kondisi cuaca. Umur simpan ikan pun bertambah. Limbah dari proses pengolahan tidak dibuang, melainkan diolah lagi menjadi pakan ternak, sehingga nyaris tidak ada yang terbuang sia-sia dari satu siklus pengolahan ikan.
Dari Masalah Lingkungan Internal ke Pemberdayaan Warga
Manager CSR and Relations Badak LNG, Putra Peni Luhur Wibowo, menjelaskan bahwa pendekatan seperti ini lahir dari kebutuhan perusahaan untuk mengelola aspek lingkungan secara lebih efisien. “Program inovasi sosial yang menjawab masalah nyata (seperti pengelolaan sampah atau kemandirian pangan) memperkuat hubungan harmonis antara perusahaan dan warga, sehingga meminimalisir risiko konflik sosial,” kata Putra saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (22/4/2026).
Perusahaan, lanjutnya, juga mempertimbangkan apa yang disebut Social License to Operate, yaitu dukungan dan penerimaan dari masyarakat lokal agar operasional perusahaan bisa berjalan tanpa gesekan. Bagi perusahaan yang mengelola sumber daya strategis seperti gas alam, dukungan komunitas sekitar bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan operasional.
Putra menyebut bahwa Badak LNG memiliki sumber daya teknis dan tenaga ahli yang memungkinkan transfer teknologi dari skala industri ke skala komunitas. Inilah yang membuat SOPAN TERI bisa terwujud dari prinsip yang selama ini hanya hidup di dalam kilang.
Ekonomi Sirkular di Kawasan Pesisir
Lestari Bahari menempatkan nelayan dan warga pesisir sebagai bagian aktif dari mata rantai ekonomi sirkular. Konsep ekonomi sirkular sendiri mengacu pada model produksi di mana limbah dari satu proses menjadi bahan baku proses berikutnya, sehingga meminimalkan pembuangan. Dalam konteks program ini, ikan teri diolah menjadi produk kering bernilai jual, sementara sisa olahannya tidak berakhir di tempat pembuangan, melainkan berubah menjadi pakan ternak yang bisa dijual atau digunakan oleh peternak lokal.
Seluruh rangkaian program ini, menurut Putra, juga merupakan kontribusi Badak LNG terhadap pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs), agenda pembangunan berkelanjutan global yang mencakup aspek pengentasan kemiskinan, kemandirian pangan, dan pengelolaan lingkungan hidup.
Program Lestari Bahari kini berjalan sebagai salah satu wajah konkret dari komitmen ESG (Environmental, Social, and Governance) Badak LNG, di tengah tekanan global yang mendorong perusahaan energi untuk tidak hanya mengejar produksi, tetapi juga membuktikan tanggung jawab terhadap lingkungan dan komunitas sekitarnya.
Editor: Surya Dharma