Teras News — Perundingan nuklir AS-Iran bergerak dramatis. Hanya 10 menit setelah Donald Trump membatalkan keberangkatan utusannya ke Pakistan, Iran mengirimkan dokumen baru yang menurut Trump jauh lebih baik dari proposal sebelumnya.
“Mereka memberi kami dokumen yang seharusnya lebih baik. Dan yang menarik, segera setelah saya membatalkannya, dalam waktu 10 menit kami mendapat dokumen baru yang jauh lebih baik,” kata Trump kepada wartawan pada Sabtu, seperti dilaporkan Sputnik/RIA Novosti.
Tuntutan Inti AS: Iran Dilarang Miliki Senjata Nuklir
Trump enggan membeberkan isi dokumen tersebut. Ia hanya menegaskan satu hal yang menjadi syarat mutlak Washington. “Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Sangat sederhana,” ujarnya.
Baca Juga:
Dua utusan khusus Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, awalnya dijadwalkan berangkat ke Pakistan pada Sabtu untuk melanjutkan perundingan. Rencana itu dibatalkan setelah laporan menyebut delegasi Iran sudah lebih dulu meninggalkan Pakistan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sendiri tiba di Islamabad pada Jumat, sehari sebelum pembatalan itu terjadi.
Latar Konflik: Serangan 28 Februari dan Gencatan Senjata yang Rapuh
Ketegangan antara kedua negara memuncak sejak 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran. Serangan itu menimbulkan kerusakan dan menelan korban jiwa warga sipil.
Kedua pihak kemudian menyepakati gencatan senjata selama dua pekan mulai 7 April. Pembicaraan lanjutan di Islamabad sempat digelar, namun berakhir tanpa kesepakatan. AS lalu memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran, sedangkan para mediator berupaya mengatur putaran perundingan berikutnya.
Pakistan memainkan peran sebagai penengah dalam proses diplomasi ini, posisi yang cukup sensitif mengingat Pakistan sendiri adalah negara bersenjata nuklir yang berbatasan langsung dengan Iran.
Dengan dokumen baru yang kini berada di tangan Washington, publik menunggu apakah kedua pihak akan kembali ke meja perundingan atau justru memilih jalur lain yang lebih keras.
Editor: Ratna Dewi