Berita

PDIP: Diskusi Budiman Sudjatmiko di UGM Sejak Awal Berpotensi Ricuh, Waktu dan Tempat Dinilai Tidak Tepat

8
×

PDIP: Diskusi Budiman Sudjatmiko di UGM Sejak Awal Berpotensi Ricuh, Waktu dan Tempat Dinilai Tidak Tepat

Sebarkan artikel ini

Teras News — Kericuhan yang mewarnai diskusi di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, yang menghadirkan sejumlah pejabat negara termasuk Budiman Sudjatmiko, dinilai sudah dapat diprediksi sejak awal. Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP), Deddy Sitorus, menyebut pemilihan waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan itu tidak memperhitungkan kondisi politik yang tengah memanas.

“Jadi jelas-jelas kegiatan ini sejak awal berpotensi menimbulkan gesekan,” kata Deddy kepada wartawan, Kamis (18/6/2026).

Deddy Sitorus: Kemarahan Mahasiswa Sedang Memuncak

Deddy mengakui bahwa dalam kondisi normal, kericuhan semacam itu patut disayangkan. Namun ia menilai situasi saat ini berbeda. Akumulasi kemarahan dan gerakan mahasiswa yang tengah memuncak membuat gesekan menjadi sulit dihindari.

“Dalam kondisi normal dan secara etis, kejadian itu patut disayangkan terjadi. Tetapi kalau kita bicara konteks dimana akumulasi kemarahan dan gerakan mahasiswa sedang memuncak, kejadian itu sulit dihindarkan,” ujar Anggota Komisi II DPR RI tersebut.

Menurut Deddy, kegiatan yang bertujuan menyampaikan pesan pemerintah seharusnya menunggu kondisi lebih kondusif. Bukan digelar di tengah gelombang protes mahasiswa yang masih bergulir.

Posisi Budiman Dinilai Sudah Jauh dari Dunia Pergerakan

Deddy juga menyoroti kehadiran Budiman Sudjatmiko secara khusus. Menurutnya, Budiman tidak bisa lagi menyandang label aktivis sebagai modal sosial yang tak habis-habisnya, karena posisi politiknya sudah berubah secara fundamental setelah masuk lingkaran pemerintahan.

“Jadi menurut saya, Budiman dan para mahasiswa punya jarak dan tembok pemisah yang cukup jauh dan tinggi. Bahkan cenderung berbeda secara diametral,” katanya.

Deddy mempertanyakan bagaimana respons Budiman seandainya ia berada di posisi mahasiswa yang melontarkan kritik saat ini. Ia menilai Budiman tidak lagi dapat berpikir romantik tentang masa lalunya sebagai aktivis.

“Dia tidak bisa lagi berpikir romantik dan nostalgik seolah punya deposito abadi sebagai aktivis. Dia sudah menjadi bagian dari kekuasaan, cenderung menikmati dan telah mengubah cara pikir serta posisinya,” ungkap Deddy.

Diskusi Berujung Ricuh di Tengah Gelombang Protes Mahasiswa

Kericuhan dalam diskusi di UGM tersebut terjadi di tengah meningkatnya aksi mahasiswa di berbagai daerah yang mengkritik pemerintah. Budiman Sudjatmiko hadir bersama sejumlah pejabat negara lain dalam kegiatan itu.

Deddy menegaskan situasi ini sebenarnya bisa dihindari apabila penyelenggara lebih cermat membaca dinamika yang berkembang, baik soal waktu maupun pemilihan lokasi acara. Publik kini menunggu bagaimana pemerintah dan pihak terkait merespons desakan mahasiswa yang belum mereda.

Penulis: Dian Permata
Editor: Ratna Dewi