Teras News — Senin malam (15/6), Presiden Prabowo Subianto menerima sambungan telepon dari Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Jakarta. Komunikasi langsung dua kepala negara itu memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara yang paling vokal dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina di panggung internasional.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan keterangan tertulis terkait percakapan tersebut. Menurut Teddy, sambungan telepon itu mencerminkan hubungan erat yang selama ini terjalin antara Indonesia dan Palestina dalam semangat persaudaraan dan solidaritas.
Prabowo Tegaskan Posisi Indonesia di Pihak Rakyat Palestina
Dalam telepon itu, Presiden Prabowo menegaskan dukungan Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina. Sikap ini konsisten dengan kebijakan luar negeri Indonesia yang selama puluhan tahun menempatkan kemerdekaan Palestina sebagai prioritas, terlepas dari dinamika politik global yang terus berubah.
Baca Juga:
Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel dan secara konsisten menolak normalisasi sebelum Palestina mendapatkan kemerdekaannya. Posisi ini sudah menjadi garis kebijakan luar negeri Indonesia sejak era kemerdekaan dan ditegaskan kembali oleh pemerintahan Prabowo.
Hubungan Jakarta dan Ramallah yang Sudah Lama Terjalin
Telepon dari Mahmoud Abbas bukan yang pertama kali menjadi jembatan komunikasi antara pemimpin kedua negara. Indonesia dan Palestina memiliki rekam jejak panjang dalam kerja sama kemanusiaan, pendidikan, dan dukungan diplomatik di forum-forum internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Mahmoud Abbas sendiri menjabat sebagai Presiden Otoritas Palestina sejak 2005. Di bawah kepemimpinannya, Palestina terus memperjuangkan pengakuan internasional atas negara merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota, sesuai resolusi PBB.
Dukungan Prabowo yang disampaikan dalam percakapan itu, seperti dilaporkan Sekretariat Kabinet RI, menjadi salah satu sinyal diplomatik Jakarta di tengah situasi kawasan Timur Tengah yang masih bergejolak.
Editor: Ratna Dewi