Teras News — Militer Israel menyatakan kesiapannya untuk mempertahankan kehadiran jangka panjang di Lebanon, bahkan di tengah proses penandatanganan perjanjian antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat (19/6/2026). Israel bukan pihak dalam perjanjian itu, dan sejauh ini tidak menunjukkan niat untuk menarik pasukannya.
“Tanpa penarikan pasukan Israel dari wilayah yang mereka duduki dalam perang ini, pengakhiran perang secara penuh belum tercapai,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, sebagaimana dilaporkan Anadolu Agency.
Stasiun penyiaran publik Israel, KAN, mengutip sumber keamanan anonim yang menyebut tentara Israel “siap untuk tetap berada di Lebanon dalam jangka waktu lama” jika diperintahkan demikian. Sumber yang sama menyatakan militer bersiap menghadapi “semua skenario di Lebanon.” Serangan Israel di Lebanon selatan pun dilaporkan masih berlanjut, bersamaan dengan tembakan yang mengarah ke wilayah Israel utara.
Baca Juga:
Lebih dari 1 Juta Orang Mengungsi Sejak Serangan 2 Maret 2026
Israel memulai serangan ke Lebanon pada 2 Maret 2026. Sejak saat itu, ribuan orang tewas dan terluka, sementara lebih dari 1 juta orang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka, menurut angka resmi terbaru. Pasukan Israel tercatat telah maju lebih dari 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon.
Ketegangan kawasan ini memuncak pada akhir Februari 2026 setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran yang menewaskan lebih dari 3.000 orang. Iran membalas dengan menyerang negara-negara Teluk dan Israel, sekaligus membatasi lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.
Gencatan senjata sementara antara AS dan Iran baru tercapai pada 8 April 2026, melalui mediasi Pakistan. Dari situlah kerangka perjanjian untuk mengakhiri konflik mulai disusun, sebelum akhirnya dijadwalkan ditandatangani secara resmi di Swiss.
Iran: Pendudukan Berkelanjutan Langgar Nota Kesepahaman
Araghchi mempertegas posisi Teheran. Ia menyatakan setiap serangan Israel terhadap Lebanon atau pendudukan yang terus berlangsung atas tanah Lebanon “menurut pandangan kami, akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap nota kesepahaman.”
Presiden Lebanon Joseph Aoun sebelumnya menyampaikan bahwa nota kesepahaman AS-Iran mencakup komitmen untuk menghentikan eskalasi militer di seluruh kawasan, termasuk Lebanon. Namun isi lengkap perjanjian itu belum dipublikasikan, dan sejumlah pejabat terkadang memberikan interpretasi yang saling bertentangan mengenai cakupannya.
Israel sendiri bukan pihak dalam perjanjian tersebut, meski ikut bergabung dengan AS dalam serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Posisi itu membuat Tel Aviv merasa tidak terikat secara hukum oleh kesepakatan yang dihasilkan dari negosiasi antara Washington dan Teheran.
Israel memiliki rekam jejak pendudukan di Lebanon selatan, sebagian wilayah telah dikuasai selama beberapa dekade, sebagian lainnya sejak konflik antara 2023 dan 2024. Dengan pasukan yang kini telah masuk lebih jauh ke dalam wilayah Lebanon, pertanyaan soal kapan dan apakah penarikan akan terjadi tetap menggantung tanpa jawaban pasti.
Editor: Arif Budiman