Berita

Impor LPG 7 Juta Ton per Tahun, Pemerintah Lirik CNG sebagai Pengganti

15
×

Impor LPG 7 Juta Ton per Tahun, Pemerintah Lirik CNG sebagai Pengganti

Sebarkan artikel ini

Teras News — Dari total 8,6 juta ton LPG yang dikonsumsi Indonesia setiap tahun, hanya 1,6 hingga 1,7 juta ton yang berasal dari produksi dalam negeri. Sisanya, sekitar 7 juta ton, dipasok dari luar negeri. Ketergantungan impor yang besar inilah yang mendorong pemerintah mencari alternatif energi domestik, dan pilihan yang kini tengah dikaji serius adalah Compressed Natural Gas (CNG).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa rencana pemanfaatan CNG sebagai substitusi LPG masih berada di tahap pembahasan. Ia menargetkan finalisasi segera dilakukan.

“Sekarang lagi masih dalam pembahasan, yang tadi saya laporkan, adalah kita membuat CNG. Tapi ini masih dalam pembahasan, saya harus finalisasi, dan ini salah satu alternatif terbaik untuk kita mendorong agar kemandirian energi kita di sektor LPG bisa dapat kita lakukan,” kata Bahlil, dikutip Selasa (28/4/2026).

Bahan Baku dari Gas C1 dan C2 yang Sudah Ada di Dalam Negeri

CNG diproduksi dari gas cair C1 dan C2, yakni gas alam yang didominasi komponen metana (C1) dan etana (C2). Gas tersebut kemudian dipadatkan menggunakan peralatan khusus hingga mencapai tekanan 250 hingga 400 bar. Keunggulan utamanya: seluruh bahan baku tersedia dari industri domestik, tanpa perlu impor.

Bahlil merinci proses teknisnya. “Kalau CNG itu adalah dari gas, tapi dia dari gas cair C1, C2. Dan itu industri di dalam negeri kita banyak. Tetapi dia memakai satu alat yang kemudian bisa ditekan sampai dengan 250 sampai 400 bar, tekanannya. Sehingga pemakaiannya itu bisa baik. Tapi sekali lagi ini masih dalam tahap konsolidasi agar kita bisa mencapai hasil yang lebih baik,” jelasnya.

Saat ini sudah ada 57 badan usaha niaga yang bergerak di bidang CNG. Sebagian sudah beroperasi melayani sektor perhotelan, restoran, dan sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG).

Respons terhadap Ketidakpastian Geopolitik Global

Pemerintah tidak menyebut target waktu penyelesaian kajian ini. Namun Bahlil menegaskan urgensinya bukan sekadar soal penghematan devisa, melainkan juga ketahanan energi di tengah gejolak geopolitik dunia yang ia sebut kian tak menentu.

“Di era geopolitik yang tidak menentu, kita harus mencari formulasi untuk mencapai survival mode. Semua produksi yang ada di dalam negeri, itu yang kita prioritaskan,” tandas Bahlil.

CNG masuk dalam daftar panjang strategi diversifikasi energi yang tengah dijalankan pemerintah. Strategi lain yang juga sedang dioptimalkan mencakup peningkatan lifting minyak dan gas bumi, perluasan penggunaan biodiesel B50, serta pemanfaatan Dimetil Eter (DME) sebagai alternatif LPG lainnya.

Kajian pemanfaatan CNG skala nasional kini menunggu proses finalisasi di tingkat kementerian sebelum bisa berlanjut ke tahap implementasi.

Penulis: Ratna Dewi
Editor: Surya Dharma