Berita

Film ‘Pesta Babi’ Terseret Pusaran Politik Identitas di Ruang Digital Indonesia

12
×

Film ‘Pesta Babi’ Terseret Pusaran Politik Identitas di Ruang Digital Indonesia

Sebarkan artikel ini

Teras News — Perdebatan soal film Pesta Babi meledak di ruang digital Indonesia. Karya yang seharusnya diperlakukan sebagai produk seni kini bergeser menjadi ajang benturan identitas di media sosial, dengan berbagai kelompok saling mengklaim posisi moral atas keberadaan film tersebut.

Fenomena ini mencerminkan pola yang semakin umum: sebuah karya budaya tidak lagi dinilai semata dari mutu sinematiknya, melainkan dari siapa pembuatnya, simbol apa yang dibawa, dan kelompok mana yang merasa terwakili atau tersinggung oleh judulnya.

Karya Seni Jadi Arena Pertarungan Identitas

Judul film ini menjadi pemantik tersendiri. Bagi sebagian kelompok, kata “babi” dalam konteks hiburan publik langsung memunculkan sensitivitas berlapis, baik dari sudut pandang keagamaan maupun budaya. Perdebatan pun meluas jauh melampaui pertanyaan sederhana: apakah filmnya bagus atau tidak?

Seperti dilaporkan Sindonews, ruang digital yang dipenuhi perdebatan soal film ini menggambarkan bagaimana karya budaya telah berubah menjadi arena pertarungan identitas. Bukan lagi soal apakah penonton menikmati ceritanya.

Ini bukan kali pertama sebuah judul film atau karya seni terseret ke dalam pusaran politik identitas di Indonesia. Namun intensitas debat di media sosial terhadap Pesta Babi menunjukkan betapa tipisnya batas antara apresiasi seni dan gesekan komunal di era digital.

Pola Lama, Panggung Baru

Debat semacam ini mengikuti pola yang sudah berulang. Sebuah karya muncul, satu kelompok bereaksi keras, kelompok lain membela atas nama kebebasan berekspresi, lalu perdebatan beranak-pinak jauh dari substansi karya itu sendiri.

Yang berubah hanya kecepatannya. Media sosial membuat reaksi menyebar dalam hitungan jam, sebelum banyak orang sempat menonton atau membaca konten yang diperdebatkan.

Publik kini menunggu apakah perdebatan ini akan mereda seiring berjalannya waktu, atau justru berkembang menjadi tekanan terhadap distribusi film tersebut.

Penulis: Surya Dharma
Editor: Ratna Dewi