Teras News — Sensus Ekonomi 2026 resmi dimulai 1 Mei hingga 31 Agustus 2026, menjangkau seluruh wilayah Indonesia dari usaha skala mikro sampai ekonomi digital. Badan Pusat Statistik (BPS) menyiapkan pelaksanaan sensus ini selama dua tahun terakhir.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut sensus ini wajib dilaksanakan sesuai Undang-Undang Statistik 1997. Aturan itu mengatur siklus tiga jenis sensus besar: sensus penduduk untuk tahun berakhiran angka 0, sensus pertanian untuk tahun berakhiran 3, dan sensus ekonomi untuk tahun berakhiran 6. Artinya, 2026 adalah tahunnya.
Potret Ekonomi RI dari Warung hingga Platform Digital
Amalia menggambarkan Sensus Ekonomi sebagai “general check up” kondisi perekonomian nasional. Lewat sensus ini, pemerintah ingin memotret struktur pelaku usaha secara menyeluruh, mulai dari pedagang kecil di pasar tradisional hingga pelaku bisnis berbasis platform digital yang selama ini sulit terpantau dalam data rutin.
Baca Juga:
Hasilnya nanti bisa dipakai pemerintah maupun pelaku usaha untuk membaca peluang, mengidentifikasi tren ekonomi, dan menjadi dasar keputusan investasi ke depan. Data sensus ekonomi bersifat komprehensif dan tidak bisa digantikan oleh survei parsial yang dilakukan tiap tahun.
Sosialisasi Dua Tahun Belum Cukup Tanpa Partisipasi Warga
BPS sudah menggeber sosialisasi sejak 2024 ke berbagai lapisan: pelaku usaha, masyarakat umum, hingga pemerintah pusat dan daerah. Tapi sukses tidaknya sensus ini sangat bergantung pada kesediaan warga dan pelaku usaha menyambut petugas dan memberikan data yang akurat.
Sensus ekonomi terakhir digelar pada 2016. Dalam kurun sepuluh tahun, struktur ekonomi Indonesia berubah drastis, termasuk meledaknya sektor usaha berbasis aplikasi dan e-commerce yang belum tercakup secara optimal dalam sensus sebelumnya.
Amalia menyampaikan penjelasan ini dalam program Nation Hub CNBC Indonesia, Kamis (30/4/2026). BPS berharap seluruh pelaku usaha, dari warung kelontong hingga startup digital, terbuka saat petugas sensus datang mendata mulai bulan ini.
Editor: Ratna Dewi