Teras News — Kamis (21/5/2026), di sela ajang The 50th IPA Convention & Exhibition (Convex) di ICE BSD, Tangerang, Dirjen EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengumumkan rencana pasti: bensin bercampur etanol 5 persen (E5) wajib beredar mulai Juli 2026. Tidak serentak nasional, tapi dimulai dari wilayah-wilayah di Pulau Jawa yang punya akses langsung ke pasokan lokal.
Tiga perusahaan dalam negeri telah diidentifikasi sanggup memasok 26.000 kiloliter etanol berbasis bahan bakar (fuel grade). Volume itu akan dikunci lewat Keputusan Menteri (Kepmen) yang saat ini masih dalam proses penyusunan hingga akhir Mei, lalu dilanjutkan pengesahan sepanjang Juni.
“Bahan baku lokal yang menyatakan mampu untuk deliver fuel grade ke kami adalah 26.000 dari tiga perusahaan. Ini baru sekarang baru tercollect, nanti saya akan rekap lagi, ini ongoing kan sampai Mei akhir, terus Juni nanti proses Kepmen dan sebagainya kita pastikan volumenya,” jelas Eniya.
Baca Juga:
179 Lokasi Pertamina Siap, Fokus di Jakarta hingga Yogyakarta
PT Pertamina (Persero) sudah menyiapkan 179 titik penyaluran E5 dan berencana menambah jumlahnya seiring kebijakan berjalan. Wilayah cakupan awal mencakup Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta.
Eniya menegaskan bahwa distribusi tidak akan bersifat nasional dalam tahap pertama ini. “Jadi tidak nasional. Kalau nasional kurang jelas. Tetapi arahan Pak Menteri adalah menggunakan bahan baku lokal,” katanya.
Pemilihan lokasi berbasis kedekatan geografis dengan sumber pasokan. Produsen lokal yang mampu menghasilkan etanol fuel grade menjadi penentu di mana bensin E5 bisa tersedia duluan.
Peta Jalan ke E20 pada 2028: Tebu, Jagung, hingga Singkong
Program E5 bukan titik akhir. Pemerintah merancangnya sebagai batu loncatan menuju E20, campuran bensin dengan 20 persen etanol nabati, yang ditargetkan terwujud pada 2028.
Bahan baku yang diandalkan beragam. Molase atau tetes tebu dari industri gula menjadi sumber utama saat ini. Satu pabrik juga disebut mampu memasok bioetanol berbahan jagung. Singkong masuk proyeksi untuk tahun depan.
“Target beliau kan 2028 E20. Kita ingin meningkatkan ketangguhan diri kita dengan menggunakan sumber daya alam seperti tetes tebu dari tebu, dan juga satu pabrik dapat menyuplai bioetanol yang berasal dari jagung, dan hal-hal lain yang mungkin akan berjalan tahun depan adalah dari singkong,” papar Eniya.
Setelah Jawa berhasil dijalankan, pemerintah memproyeksikan perluasan distribusi ke Bali dan Lampung dalam beberapa tahun ke depan.
Proses administratif kini menjadi kunci. Kepmen alokasi volume E5 harus rampung sebelum Juli agar distribusi bisa tepat waktu. Publik dan pelaku industri otomotif menunggu kepastian spesifikasi teknis bahan bakar baru ini sebelum kebijakan resmi bergulir.
Editor: Ratna Dewi