Teras News — Ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia berpotensi tergerus dalam waktu dekat. Program biodiesel wajib B50 yang dijadwalkan bergulir pada 1 Juli 2026 akan menyedot sekitar 16 juta ton CPO per tahun untuk kebutuhan dalam negeri, dan itu bisa langsung memangkas jatah ekspor yang selama ini menjadi andalan devisa negara.
Persoalannya tidak berhenti di situ. Produksi CPO nasional sepanjang 2025 masih tertahan di angka 51,6 juta ton, jauh dari potensi yang sebenarnya bisa dicapai. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, menyebut angka itu seharusnya sudah bisa menembus 60 juta ton apabila program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) berjalan mulus.
“Kalau PSR berhasil, produksi CPO kita seharusnya sudah bisa mencapai 60 juta ton,” kata Eddy dalam program Squawk Box CNBC Indonesia, Jumat (8/5/2026).
Baca Juga:
PSR Mandek, Produksi Sawit Nasional Jalan di Tempat
Program PSR, atau yang dikenal sebagai replanting (peremajaan lahan sawit tua), dirancang untuk mendongkrak produktivitas kebun sawit milik petani rakyat yang sudah melewati masa tanam optimal. Tapi realisasinya jauh dari target.
Eddy menjelaskan bahwa peremajaan saat ini hanya bertumpu pada perusahaan besar, dengan laju sekitar 4 hingga 5 persen per tahun. Laju itu tidak cukup untuk menggerakkan produksi nasional secara berarti. Akibatnya, angka produksi nyaris stagnan dari tahun ke tahun.
Kondisi ini diperparah oleh ancaman kemarau panjang akibat fenomena El Nino. Cuaca ekstrem kering berkepanjangan sudah terbukti memukul produktivitas tanaman sawit di berbagai wilayah sentra produksi. Bila El Nino kembali menghantam dengan intensitas tinggi, volume panen bisa melorot lebih jauh lagi.
B50 Dimulai Juli 2026, Kebutuhan Domestik Melonjak Drastis
Pemerintah menetapkan implementasi mandatori biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026. B50 adalah campuran solar dengan 50 persen bahan bakar nabati berbasis minyak sawit — naik signifikan dari level B35 yang berlaku sebelumnya.
Kebutuhan CPO untuk program ini ditaksir mencapai 16 juta ton per tahun. Jumlah itu bukan angka kecil. Dengan total produksi nasional yang baru menyentuh 51,6 juta ton, alokasi sebesar itu otomatis mempersempit ruang ekspor yang tersedia.
Selama ini ekspor CPO dan produk turunannya menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar Indonesia. Penyusutan volume ekspor berarti tekanan pada neraca perdagangan, khususnya di sektor komoditas perkebunan.
Stagnasi Produksi Jadi Masalah Jangka Panjang
Tanpa akselerasi PSR yang nyata dan tanpa perbaikan produktivitas kebun rakyat, Indonesia menghadapi dilema: memenuhi kebutuhan energi dalam negeri lewat B50, atau menjaga arus ekspor CPO tetap kuat. Keduanya sulit dipenuhi sekaligus jika produksi tidak tumbuh.
Eddy Martono menyoroti bahwa peremajaan oleh perusahaan saja tidak akan cukup membalikkan tren ini. Kebun sawit rakyat, yang menguasai porsi besar lahan perkebunan nasional, perlu ikut diremajakan secara masif agar produktivitas keseluruhan sektor bisa naik ke level yang dibutuhkan.
Publik dan pelaku industri kini menunggu bagaimana pemerintah menyeimbangkan dua kepentingan besar ini: mempercepat transisi energi lewat B50 sekaligus menjaga posisi Indonesia sebagai produsen dan eksportir CPO terbesar di dunia.
Editor: Surya Dharma