Berita

3.600 Lulusan SMK Diberangkatkan ke Luar Negeri, Mendikdasmen Luncurkan Program SMK 3+1 di Surabaya

17
×

3.600 Lulusan SMK Diberangkatkan ke Luar Negeri, Mendikdasmen Luncurkan Program SMK 3+1 di Surabaya

Sebarkan artikel ini

Teras News — Rabu pekan ini, ribuan anak muda Indonesia meninggalkan tanah air untuk memulai karier di luar negeri. Di Surabaya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti secara resmi melepas lebih dari 3.000 lulusan SMK dan 600 lulusan lembaga kursus yang siap bekerja di sejumlah negara.

“Programnya ada dua. Pertama, pelepasan lulusan SMK dan kursus untuk bekerja di luar negeri. Ada lebih dari 3.000 lulusan SMK dan 600 lulusan kursus yang kami lepas untuk bekerja di beberapa negara,” kata Abdul Mu’ti.

Bersamaan dengan pelepasan itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi meluncurkan program SMK 3+1. Skemanya sederhana: siswa menempuh pendidikan SMK selama tiga tahun seperti biasa, lalu menjalani satu tahun tambahan untuk persiapan masuk dunia kerja melalui kemitraan dengan perusahaan dan agensi, baik di dalam maupun luar negeri.

Bekal Bahasa hingga Dokumen Imigrasi Disiapkan Pemerintah

Para peserta yang diberangkatkan bukan sekadar dilepas begitu saja. Abdul Mu’ti memastikan mereka sudah dibekali kemampuan bahasa asing, wawasan budaya, pemahaman regulasi, hingga sistem hukum negara tujuan. Urusan dokumen pun ditangani.

“Kami juga mendampingi kesiapan keimigrasian mereka, termasuk pengurusan paspor, visa, dan kelengkapan dokumen lainnya agar tidak mengalami kesulitan,” ujarnya.

Sehari sebelumnya, di Tangerang, Kemendikdasmen juga meresmikan program pelatihan bahasa untuk 136 SMK di seluruh Indonesia. Tujuannya satu: memastikan siswa punya kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing sebelum terjun ke pasar kerja internasional.

Jawa Timur Dominasi Peserta, Jepang dan Turki Jadi Tujuan Utama

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin menyebut peserta terbanyak pada pelepasan perdana ini berasal dari Jawa Timur. Meski begitu, program berskala nasional ini juga menyertakan peserta dari provinsi lain.

Setiap negara tujuan punya kebutuhan tenaga kerja yang berbeda. Jepang dan Korea Selatan banyak menyerap tenaga caregiver (pendamping lansia atau penyandang disabilitas), pertanian, dan manufaktur. Turki justru lebih banyak membutuhkan tenaga di sektor hospitality, atau industri perhotelan dan pariwisata.

“Setiap negara punya kebutuhan dan keunikan masing-masing. Di Turki, misalnya, mereka sangat percaya dengan tenaga kerja dari Indonesia,” kata Tatang.

115 SMK di Jawa Timur Sudah Masuk Program 3+1

Untuk bergabung ke program SMK 3+1, sekolah harus mengajukan usulan ke kementerian dan menjalani proses asesmen. Jika dinyatakan memenuhi syarat, penetapan dilakukan melalui surat keputusan menteri disertai dukungan dari pusat. Saat ini sudah ada 115 SMK di Jawa Timur yang terlibat.

Tatang memastikan pelepasan tenaga kerja lulusan SMK ini tidak berhenti di sini. Program serupa akan digelar secara bertahap setiap beberapa bulan ke depan, mencakup peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Program ini disebut sebagai tindak lanjut arahan Presiden agar lulusan SMK memiliki kesiapan kerja yang kuat, seiring dengan kebutuhan pasar global yang terus tumbuh terhadap tenaga kerja terampil asal Indonesia.

Penulis: Ratna Dewi
Editor: Surya Dharma