Teras News — 10.000 anggota koperasi sapi perah di Jawa Timur kini bisa didata secara digital dan real time, setelah OJK bersama International Labour Organization (ILO) mengimplementasikan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) di tiga koperasi prioritas. Sistem ERP ini dirancang khusus untuk memecah kebuntuan lama: peternak sulit dapat kredit karena data usaha mereka tidak pernah tercatat dengan benar.
Asimetri Informasi, Akar Masalah Peternak Sulit Dapat Pinjaman
Selama ini, peternak sapi perah masuk kategori debitur yang sulit dinilai oleh lembaga keuangan formal. Bukan karena usahanya tidak layak, melainkan karena datanya tidak ada. Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, menyebut kondisi ini sebagai asimetri informasi: profil usaha peternak kabur, kapasitas produksi simpang siur, dan kondisi keuangan belum terdokumentasi sama sekali.
Sistem ERP mengubah itu. Data produksi, keuangan, dan operasional koperasi kini tercatat secara sistematis dan bisa dipantau secara langsung. Hasilnya adalah gambaran yang jauh lebih akurat soal siapa peternak itu, seberapa besar kapasitas produksinya, dan bagaimana kondisi keuangannya.
Baca Juga:
“Melalui data yang dihasilkan oleh sistem ERP ini, pemeringkat kredit alternatif dapat membangun profil kredit peternak dengan lebih objektif, akurat, dan inklusif,” kata Adi dalam keterangan tertulis yang dirilis Jumat.
Tiga Koperasi Jawa Timur Jadi Pilot Project
Implementasi pertama menyasar tiga koperasi sapi perah di Jawa Timur: Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung, Koperasi Peternak Sapi Perah Setia Kawan (KPSP Setia Kawan), dan KPUD Tani Wilis. Total anggota ketiganya mencapai 10.000 orang.
Sistem ERP tidak berdiri sendiri. OJK mengintegrasikannya dengan dua layanan tambahan: Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA) dan Penyelenggara Agregasi Jasa Keuangan (PAJK). PKA bekerja seperti lembaga pemeringkat kredit konvensional, bedanya ia memakai data-data non-bank seperti riwayat produksi susu dan data operasional koperasi sebagai basis penilaian. PAJK berperan sebagai penghubung antara peternak dengan berbagai lembaga keuangan formal.
Program ini masuk dalam kolaborasi OJK melalui Pusat Inovasi OJK Infinity bersama ILO dalam kerangka program PROMISE 2 IMPACT.
Target Berikutnya: Seluruh Jawa Timur
OJK dan para pemangku kepentingan terkait sudah mulai membahas perluasan program ke seluruh wilayah Jawa Timur. Keberhasilan di tiga koperasi itu diharapkan bisa menjadi model yang direplikasi ke sektor dan daerah lain di Indonesia.
Akses kredit yang terbatas memang bukan masalah baru di sektor peternakan. Peternak skala kecil dan menengah umumnya tidak memiliki agunan yang cukup untuk memenuhi syarat pinjaman bank konvensional, sementara catatan keuangan mereka nyaris tidak ada. Skema kredit alternatif berbasis data digital seperti ini menjadi salah satu pendekatan yang mulai banyak dikembangkan di negara-negara dengan sektor pertanian dan peternakan yang besar.
Jika replikasi berjalan sesuai rencana, ribuan peternak di luar Jawa Timur berpotensi mendapat akses ke pembiayaan formal yang selama ini tertutup bagi mereka.
Editor: Ratna Dewi