Teras News — Lima belas rumah apung sudah berdiri sejak 2023. Tahun ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menambah 20 unit sekaligus — seluruhnya untuk warga dua desa di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, yang tanahnya sudah bertahun-tahun tenggelam oleh rob.
Rob — atau banjir air laut pasang yang merendam kawasan pesisir — telah lama menggerus permukiman di Desa Timbulsloko dan Desa Bedono. Warga di sana tidak bisa sekadar meninggikan lantai rumah atau memasang tanggul. Air laut sudah mengalahkan solusi-solusi konvensional itu. Rumah apung menjadi jawaban yang dipilih pemerintah: hunian yang bisa mengikuti naik-turunnya permukaan air.
19 Unit di Timbulsloko, 1 Unit di Bedono
Dari 20 unit yang ditargetkan tahun ini, 19 unit akan dibangun di Desa Timbulsloko dan 1 unit di Desa Bedono. Tujuh belas unit di antaranya dibiayai APBD Provinsi Jawa Tengah. Sisanya dari skema kolaborasi bersama Pemerintah Kabupaten Demak dan Bank Jateng.
Baca Juga:
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperakim) Provinsi Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan, menyebut tiga unit pertama sudah mulai dibangun sejak Maret 2026. Penerimanya adalah Rokani dari Desa Bedono, serta Krisma dan Ngadiyanto dari Desa Timbulsloko.
“Saat ini sudah mulai proses pembangunan pada bulan Maret, dan ditargetkan selesai di bulan Mei ini,” kata Boedyo, Rabu (22/4/2026).
Rekam Jejak: Dari 1 Prototipe ke 35 Unit
Jika 20 unit tahun ini rampung, total rumah apung di kawasan itu akan mencapai 35 unit. Perjalanannya panjang. Dimulai dari 1 unit prototipe pada 2023 yang dibangun Pemkab Demak bersama dana CSR. Lalu 1 unit tambahan pada 2024 dari Yayasan Sheep Indonesia. Pada 2025, CSR Bank Jateng dan Pemkab Demak membangun 3 unit, kemudian disusul 10 unit lagi di tahun yang sama — sehingga total akhir 2025 tercatat 15 unit.
Boedyo menjelaskan pembangunan rumah apung merupakan bagian dari semangat Ngopeni Nglakoni — frasa dalam bahasa Jawa yang berarti “merawat dan menjalani” — yang menjadi visi Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen dalam menangani wilayah bencana.
“Dalam beberapa kesempatan, Pak Gubernur selalu menyampaikan kerja super team bukan super man. Itu yang kami lakukan dalam menangani pemukiman warga di daerah bencana rob,” ujarnya.
Warga Bertahan di Desa yang Tenggelam
Bagi keluarga seperti Rokani, Krisma, dan Ngadiyanto, rumah apung bukan sekadar bantuan konstruksi. Rob telah merenggut fungsi rumah mereka sebagai tempat berlindung yang aman. Lantai terendam, dinding lembap, dan ancaman air yang datang kapan saja sudah menjadi rutinitas yang melelahkan.
Boedyo berharap program ini memberi kepastian yang selama ini absen dari kehidupan warga pesisir Demak. “Selama ini rob menjadi masalah utama bagi warga di sana. Kami berharap bantuan ini menjadi solusi,” tandasnya.
Dilansir dari laporan Pemprov Jateng.
Berita Terkait
Editor: Ratna Dewi