Berita

Dana Riset Nasional 2026 Capai Rp8 Triliun, Bukan Rp1,7 Triliun yang Beredar

10
×

Dana Riset Nasional 2026 Capai Rp8 Triliun, Bukan Rp1,7 Triliun yang Beredar

Sebarkan artikel ini

Teras News — Dana riset yang bisa diakses perguruan tinggi Indonesia pada 2026 mencapai sekitar Rp8 triliun — jauh melampaui angka Rp1,7 triliun yang sempat beredar dan memicu kesalahpahaman publik. Perbedaan antara dua angka itu bukan soal versi berbeda, melainkan soal cakupan yang sama sekali tidak sama.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, meluruskan informasi itu pada Senin (9/5) dalam acara Penandatanganan Kontrak Program Pendanaan Riset di Jakarta. Ia menjelaskan, angka Rp1,7 triliun yang diumumkan pada 9 April 2026 hanya mencakup sembilan program pendanaan dari APBN yang skemanya sudah dibuka lebih dulu — bukan total keseluruhan anggaran riset nasional tahun ini.

Total Rp8 triliun itu berasal dari tiga sumber berbeda: anggaran riset APBN Kemdiktisaintek sebesar Rp3,2 triliun, dana abadi dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dan program riset yang ada di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

“Jadi kalau kita gabungkan dana abadi penelitian dan perguruan tinggi dengan tadi dana riset kita dari APBN plus lagi dana di BRIN itu totalnya sekitar Rp8 triliun dan itu benar di sosial media. Jadi yang kurang tepat adalah Rp1,7 triliun, ini bukan total dari dana riset kita,” kata Fauzan.

104.000 Proposal Masuk, Hanya 18.215 yang Lolos

Antusiasme kampus-kampus di seluruh Indonesia ternyata meledak. Sebanyak 104.000 proposal riset masuk ke sistem, tapi hanya 18.215 yang berhasil mendapat pendanaan. Tingkat kelulusan secara keseluruhan berdiri di angka 17,4 persen.

Untuk kategori penelitian murni, kompetisinya jauh lebih berat. Tahun lalu, satu dari tiga proposal lolos seleksi — tingkat kelulusan 32 persen. Tahun ini, angkanya jatuh ke 13 persen.

“Sebetulnya besaran kelolosannya itu tahun ini sebesar 13 persen. Jadi bayangkan tahun lalu untuk penelitian itu 32 persen. Jadi kalau ada tiga orang jalan bergandengan tangan satu dapat dana gitu. Sekarang hampir sepuluh orang baru satu dapat dana,” ujar Fauzan.

Sosial Humaniora Dominasi 38 Persen Proposal yang Didanai

Dari 18.215 proposal yang lolos, bidang sosial humaniora mendominasi dengan 6.819 proposal atau 38,36 persen dari total yang didanai. Kesehatan menyusul di posisi kedua dengan 3.713 proposal (20,89 persen), diikuti pangan sebanyak 3.023 proposal (17,01 persen).

Sisa dana tersebar ke bidang rekayasa keteknikan (14,86 persen), energi (4,71 persen), maritim (2,38 persen), transportasi (1,23 persen), dan pertahanan serta keamanan (0,57 persen). Seluruh angka ini merujuk pada sebaran penerima pendanaan dalam kerangka Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) — dokumen panduan prioritas riset jangka panjang yang ditetapkan pemerintah.

Fauzan juga memastikan anggaran riset 2026 tidak mengalami pemotongan. Sejumlah program dari skema APBN lainnya, termasuk hilirisasi riset prioritas, masih dalam proses dan akan diumumkan secara bertahap. Alokasi tahap awal ini, kata dia, sengaja difokuskan pada pemerataan agar lebih banyak kampus dan peneliti muda bisa masuk ke ekosistem riset nasional.

Dilansir dari laporan Antara.

Penulis: Arif Budiman
Editor: Surya Dharma