Teras News — Jawa Tengah menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) sebanyak 794 kali sejak Januari hingga Mei 2026. Program yang dijalankan bersama pemerintah kabupaten dan kota ini menyasar masyarakat langsung di berbagai wilayah provinsi tersebut.
GPM merupakan program distribusi pangan bersubsidi atau di bawah harga pasar yang dirancang pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama saat harga kebutuhan pokok bergejolak. Dalam skema ini, komoditas seperti beras, minyak goreng, dan bahan pokok lain dijual langsung kepada warga dengan harga lebih terjangkau dibanding harga pasaran.
Pemprov Jateng Gandeng Seluruh Kabupaten dan Kota
Pelaksanaan ratusan titik GPM itu bukan kerja Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sendirian. Pemerintah kabupaten dan kota ikut terlibat aktif menggelar kegiatan serupa di wilayah masing-masing, sehingga jangkauan program meluas hingga ke daerah-daerah yang jauh dari pusat kota.
Baca Juga:
Dalam lima bulan pertama 2026, rata-rata GPM digelar lebih dari 150 kali per bulan di seluruh Jawa Tengah. Frekuensi itu mencerminkan intensitas distribusi yang cukup tinggi untuk skala provinsi.
Warga Rasakan Manfaat Langsung
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyebut manfaat program ini sudah dirasakan masyarakat secara langsung. Warga yang mengikuti GPM bisa mendapatkan bahan pangan tanpa harus bergantung pada harga eceran di pasar yang kerap naik, terutama menjelang hari besar atau ketika pasokan terganggu.
Salah satu lokasi pelaksanaan GPM adalah Banjarnegara, yang menjadi titik penyelenggaraan dan pemberitaan program ini.
Program semacam GPM lazim digunakan pemerintah daerah sebagai instrumen stabilisasi harga pangan jangka pendek. Penyelenggaraan yang tersebar di banyak titik dalam waktu singkat menunjukkan skala operasional yang tidak kecil, mengingat koordinasi antara provinsi dan puluhan kabupaten-kota perlu berjalan serentak.
Hingga akhir Mei 2026, total 794 penyelenggaraan GPM telah terlaksana. Belum ada informasi resmi dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengenai target jumlah pelaksanaan hingga akhir tahun 2026.
Editor: Ratna Dewi