Internasional

Xi Jinping Peringatkan Trump: Taiwan Bisa Picu Konflik Besar AS-China di KTT Beijing

16
×

Xi Jinping Peringatkan Trump: Taiwan Bisa Picu Konflik Besar AS-China di KTT Beijing

Sebarkan artikel ini

Teras News — Ancaman konflik terbuka antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia menggantung di udara setelah Presiden China Xi Jinping menyampaikan peringatan keras soal Taiwan dalam pertemuan puncak dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing.

Trump dan Xi bertemu di Great Hall of the People, Beijing, Kamis (14/5/2026), dalam pertemuan yang dijadwalkan berlangsung hingga Jumat. Delegasi AS yang ikut hadir terbilang luar biasa: Menteri Luar Negeri Marco Rubio, CEO Tesla Elon Musk, CEO Apple Tim Cook, dan CEO Nvidia Jensen Huang turut mendampingi Trump dalam lawatan tersebut.

Xi Sebut Taiwan Bisa Bawa Kedua Negara ke Jurang Konflik

Peringatan paling tegas datang dari Xi. Dalam sambutan pembukaannya, Xi menyebut Taiwan sebagai persoalan paling krusial dalam hubungan China-AS, dan tidak menyisakan banyak ruang untuk kompromi.

“Jika ditangani dengan baik, hubungan bilateral akan menikmati stabilitas secara keseluruhan. Namun jika tidak, kedua negara akan mengalami benturan bahkan konflik yang dapat menempatkan keseluruhan hubungan dalam bahaya besar,” kata Xi, sebagaimana dikutip kantor berita pemerintah China, Xinhua.

Xi juga menegaskan bahwa perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan merupakan kepentingan bersama terbesar antara kedua negara. “Perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan tidak bisa berjalan beriringan dengan upaya kemerdekaan Taiwan,” ujarnya.

China selama ini menganggap Taiwan sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayahnya. Pemerintah Taiwan, sebaliknya, menegaskan posisinya sebagai entitas yang merdeka secara de facto sejak 1949.

Trump Bawa Agenda Penjualan Senjata ke Meja Perundingan

Trump tidak datang tanpa amunisi. Sebelum bertolak ke Beijing, Trump menyebut ia akan membahas secara langsung dukungan militer AS untuk Taiwan, termasuk penjualan senjata yang selama ini menjadi duri dalam hubungan kedua negara.

“Presiden Xi ingin kami tidak melakukan itu, dan saya akan membahasnya,” kata Trump awal pekan ini saat ditanya wartawan soal paket senjata untuk Taipei.

Laporan The New York Times menyebutkan sekelompok senator bipartisan di AS telah mendesak Trump agar tetap melanjutkan paket penjualan senjata tersebut, terlepas dari dinamika pertemuan di Beijing.

Di sisi Trump, nada pembuka terdengar lebih optimistis. Ia menyebut hubungan AS-China akan menjadi “lebih baik dari sebelumnya” dan merujuk pada kedekatan personalnya dengan Xi. “Kami telah saling mengenal lebih lama dibanding presiden AS maupun China lainnya,” ujar Trump, merujuk pada hubungan yang bermula sejak kunjungannya ke China pada 2017.

China Dinilai Lebih Percaya Diri dari Pertemuan 2017

Para analis mencatat perubahan postur China yang mencolok dibanding delapan tahun lalu. Scott Kennedy dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut China kini datang ke meja perundingan dengan rasa percaya diri yang jauh lebih besar.

“China datang ke pertemuan ini dengan rasa percaya diri yang jauh lebih besar dibanding 2017,” kata Kennedy. Menurutnya, Beijing dinilai lebih siap menghadapi tekanan tarif maupun kebijakan keras Trump dibanding periode sebelumnya.

Xi sendiri menyinggung konsep “Thucydides Trap” dalam sambutannya, yaitu teori yang menggambarkan risiko konflik antara kekuatan lama dan kekuatan baru yang sedang bangkit. Penggunaan istilah itu dibaca banyak pihak sebagai pesan bahwa China memahami dinamika persaingan kekuatan besar, dan tidak akan mundur begitu saja.

Pertemuan berlangsung di tengah tekanan berlapis: perang tarif yang belum tuntas, pembatasan ekspor teknologi AS ke China, konflik di Timur Tengah, hingga isu nuklir Iran yang juga masuk dalam agenda pembahasan. Hasilnya, termasuk apakah ada kesepakatan konkret soal Taiwan atau perdagangan, masih ditunggu publik setelah pertemuan dua hari itu rampung.

Penulis: Ahmad Fauzan
Editor: Arif Budiman