Teras News — Damkar Rembang menangani 129 kejadian sepanjang Januari hingga Maret 2026. Yang mengejutkan, sebagian besar bukan kasus kebakaran.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Rembang, Muhammad Luthfi Hakim, menyebut laporan evakuasi nonkebakaran justru mendominasi panggilan masuk selama periode tersebut. Petugas dipanggil untuk mengevakuasi ular, mengatasi sarang tawon vespa, menangani pohon tumbang, hingga menyelamatkan hewan liar.
“Mayoritas laporan yang masuk saat ini justru nonkebakaran, seperti evakuasi ular, tawon vespa, pohon tumbang, hingga penyelamatan hewan. Ini menunjukkan Damkar semakin dibutuhkan masyarakat dalam berbagai kondisi darurat,” kata Luthfi saat ditemui, Selasa (12/5/2026).
Baca Juga:
Kebakaran Rumah di Lasem Rugikan hingga Rp 100 Juta
Meski nonkebakaran mendominasi, sejumlah insiden kebakaran tetap terjadi dan meninggalkan kerugian ratusan juta rupiah. Kebakaran rumah dilaporkan terjadi di wilayah Sedan dan Lasem. Sebuah warung di TPI Tasikagung juga ludes terbakar. Di wilayah Kota Rembang, kendaraan bermotor ikut menjadi korban si jago merah.
Kejadian terbesar tercatat di Desa Sumber Girang, Lasem. Kebakaran rumah di sana diestimasi menimbulkan kerugian sekitar Rp 100 juta.
Respons Kurang dari 10 Menit di Wilayah Perkotaan
Luthfi mencatat, beberapa laporan di kawasan perkotaan Rembang berhasil ditangani dengan waktu respons kurang dari 10 menit. Kecepatan ini menjadi tolok ukur yang terus dikejar timnya.
“Kami terus mendorong edukasi dan pencegahan, agar masyarakat lebih siap menghadapi kondisi darurat. Respons cepat petugas juga terus kami tingkatkan,” ujarnya.
Di luar penanganan lapangan, Damkar Rembang juga menggelar sosialisasi bahaya kebakaran dan pelatihan penggunaan alat pemadam api ringan (APAR) di sekolah, pondok pesantren, dan instansi pemerintahan. Luthfi menekankan, edukasi berjalan beriringan dengan kesiapan operasional di lapangan.
Warga diminta segera melapor bila menemukan potensi bahaya di lingkungan sekitar. Sinergi antara masyarakat dan petugas, kata Luthfi, menjadi kunci kecepatan penanganan kedaruratan.
Editor: Arif Budiman