Berita

Omzet Pedagang Tanah Abang Anjlok hingga 60%, Tiga Penjual Sebut Kondisi Makin Parah di 2026

9
×

Omzet Pedagang Tanah Abang Anjlok hingga 60%, Tiga Penjual Sebut Kondisi Makin Parah di 2026

Sebarkan artikel ini

Teras News — 60% — angka itu bukan kenaikan harga, melainkan seberapa dalam omzet pedagang pakaian batik di Pasar Tanah Abang sudah terkikis. Kondisi sepi di pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara ini terus memburuk sepanjang 2025 hingga 2026, dengan para pedagang omzet Tanah Abang melaporkan penurunan penjualan yang merata di berbagai jenis dagangan.

Surono, pedagang pakaian batik dan muslim pria, berkata terus terang saat ditemui CNBC Indonesia, Selasa (12/5/2026). “Kalau ditanya omzet turun berapa, wah, sudah besar banget sih, ada mungkin 60%. Era kejayaan Tanah Abang sejatinya sudah berakhir,” ujarnya. Ia mencatat bahwa kelesuan mulai terasa nyata sejak 2025, dan kini kondisinya jauh lebih memprihatinkan dari sebelumnya.

Pembeli Langganan pun Mulai Kurangi Order

Limei, pedagang pakaian anak-anak, menghadapi situasi serupa. Pembeli baru sudah jarang mampir. Yang tersisa hanya pelanggan lama, tapi mereka pun sudah memangkas jumlah pembelian.

“Kalau pembeli yang bukan langganan, sudah semakin sedikit, yang langganan masih ada dan berkurang, tapi beli barangnya makin berkurang, dari sebelumnya bisa 1 karung, sekarang cuma setengah karung. Ada juga yang sebelumnya beli lusinan, sekarang cuma beli setengah lusin,” kata Limei.

Omzetnya sudah terpangkas 50%. Penyebabnya bukan semata sepi pembeli eceran, tapi juga karena pelanggan grosirnya, yang kebanyakan pedagang di luar Jabodetabek, ikut lesu. “Langganan saya kan beli di sini, nanti buat dijual lagi, kebanyakan di luar Jabodetabek ya, tapi karena jualan mereka juga lesu, akhirnya beli di sini enggak banyak-banyak lagi,” terangnya.

Dari Dua Gerai, Kini Tersisa Satu

Rahmat, pedagang perlengkapan tidur, menyebut pangkal masalah ini bermula dari pandemi Covid-19. Omzetnya sudah turun 30%. Yang lebih pahit, ia dulu sempat mengelola dua gerai bersebelahan karena satu toko tidak cukup menampung pembeli. Kini hanya satu yang tersisa.

“Dulu sebelum Covid-19, kami buka 2 gerai, di sini sama disebelahnya, cuma gara-gara ada Covid-19, dan setelah itu Tanah Abang makin sepi, ya kami terpaksa hanya buka 1 ruko saja, karena sudah enggak kuat,” tutur Rahmat.

Rahmat mengaku kini lebih cepat menutup tokonya dan sesekali memilih tidak buka sama sekali di hari-hari yang terasa paling sepi. Meski begitu, ia sadar tidak bisa terlalu sering melakukan itu. “Kadang kalau pasar lagi sepi-sepinya, ya kami enggak buka, tapi ya jarang sih, kalau kami enggak buka sering-sering, yang ada penghasilan dapat dari mana,” katanya.

Tekanan Berlapis: dari Pandemi hingga Pergeseran Belanja

Pasar Tanah Abang dikenal sebagai pusat grosir tekstil dan pakaian terbesar di kawasan Asia Tenggara, dengan ribuan kios yang melayani pembeli dari seluruh Indonesia bahkan luar negeri. Namun dalam beberapa tahun terakhir, daya tarik pasar fisik ini menghadapi tekanan berlapis: mulai dari dampak jangka panjang pandemi Covid-19 yang mengubah kebiasaan belanja, hingga pesatnya pertumbuhan platform belanja daring yang menawarkan harga kompetitif langsung dari produsen.

Ketiga pedagang yang ditemui CNBC Indonesia kompak menyebut 2025 sebagai titik di mana penurunan terasa makin tajam, dan 2026 belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Surono merangkum perasaan banyak pedagang di sana dengan singkat: “Ya sekarang antara mau sedih atau pasrah.”

Penulis: Rizky Pratama
Editor: Surya Dharma