Berita

Konsumen Indonesia Tinggalkan Loyalitas Merek, Pilih Produk Murah Sejak Akhir 2024

10
×

Konsumen Indonesia Tinggalkan Loyalitas Merek, Pilih Produk Murah Sejak Akhir 2024

Sebarkan artikel ini

Teras News — Selasa (12/5/2026), Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin mengungkap sebuah pergeseran yang sudah berlangsung diam-diam di pasar konsumen Indonesia. Sejak akhir 2025, warga kini semakin meninggalkan kesetiaan pada merek tertentu dan beralih memilih produk yang lebih murah.

Peralihan ini bukan sesuatu yang terjadi mendadak. Solihin menyebut tren ini sudah berjalan cukup lama, bahkan sebelum tahun 2026 dimulai.

“Pergeseran itu sudah terjadi. Yang tadinya beli shampoo harus merek tertentu, sekarang memilih yang harganya lebih murah. Asal berbusa, bisa bersih. Dan ini sudah berlangsung cukup lama ya, sejak awal tahun ini, sejak akhir tahun lalu,” kata Solihin saat dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (12/5/2026).

Loyalitas Merek Kalah dari Pertimbangan Harga

Apa yang berubah? Menurut Solihin, konsumen tidak lagi menjadikan merek sebagai penjaga utama keputusan belanja mereka. Kebutuhan kini yang menjadi pertimbangan nomor satu, dan harga mengikutinya. Produk boleh beda merek, asal fungsinya sama dan harganya lebih ringan di kantong.

Pergeseran perilaku ini tidak serta-merta menghantam omzet peritel modern. Solihin menjelaskan, secara volume transaksi, konsumsi tetap berjalan. Ritel modern seperti yang tergabung di Aprindo hanya berfungsi sebagai perantara antara produsen dan konsumen akhir, bukan pihak yang memproduksi barang.

“Kalau ditanya apakah menurunkan omzet, nggak. Karena volumenya kita maksimalkan. Jadi, kalau harga jual di produsen naik, akan terjadi penyesuaian harga di konsumen akhir,” ujarnya.

Target Pertumbuhan 10 Persen di Ramadan-Lebaran Meleset

Ritel modern memang masih mencatat pertumbuhan. Tapi angkanya mengecewakan. Solihin mengakui, target pertumbuhan 10 persen yang dipasang selama momen festive, yaitu periode Ramadan dan Lebaran 2026, tidak tercapai.

“Pertumbuhan ada, berapa persen, itu masing-masing tahun berbeda ya. Tapi kalau kemarin kami harapkan pertumbuhan 10% di momen festive, itu tidak tercapai,” katanya.

Faktor eksternal juga ikut menekan harga barang di tingkat konsumen. Solihin menyebut kenaikan harga plastik sebagai salah satu contoh konkret yang memukul produsen dan ujungnya meneruskan beban ke harga eceran.

Ujian Sesungguhnya: Mei hingga September 2026

Periode pasca-Lebaran kini menjadi perhatian serius para peritel. Solihin menyebut rentang Mei hingga September 2026 sebagai fase kering yang harus dilewati sebelum momen festive berikutnya tiba saat Natal dan Tahun Baru.

“Kalau ditanya tumbuh, ada pertumbuhan. Tapi ini kan baru selesai festive, Puasa-Lebaran. Ujiannya setelah ini, melewati festive ini. Mei sampai September. Festive selanjutnya baru ada saat Nataru (Natal-Tahun Baru),” kata Solihin.

Aprindo, yang anggotanya mencakup jaringan ritel modern di seluruh Indonesia, kini bersiap menghadapi periode sepi tersebut di tengah konsumen yang semakin selektif soal harga. Apakah volume penjualan yang dikejar bisa menutup tekanan dari pergeseran preferensi konsumen, Solihin sendiri belum memberikan jawaban pasti.

Penulis: Bayu Saputra
Editor: Surya Dharma