Berita

Iduladha Bukan Cuma Hari Raya Haji: Ini Kaitan dan Perbedaan Keduanya

23
×

Iduladha Bukan Cuma Hari Raya Haji: Ini Kaitan dan Perbedaan Keduanya

Sebarkan artikel ini

Teras NewsIduladha dan ibadah haji jatuh di bulan yang sama, Dzulhijjah, namun keduanya bukan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Banyak umat Muslim di Indonesia masih menyebut Iduladha sebagai “Hari Raya Haji”, sebuah kebiasaan yang secara tidak langsung menautkan dua ibadah ini seolah-olah saling bergantung satu sama lain.

Kenyataannya, Iduladha adalah hari raya yang bisa dirayakan seluruh umat Islam di seluruh penjuru dunia, bukan hanya mereka yang sedang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Makkah.

Iduladha Dirayakan Semua Muslim, Bukan Hanya Jemaah Haji

Iduladha diperingati setiap 10 Dzulhijjah. Pada hari itu, umat Islam yang tidak sedang berhaji pun tetap merayakannya dengan salat Id, penyembelihan hewan kurban, dan takbir. Jutaan Muslim di Asia, Afrika, Eropa, hingga Amerika turut merayakan tanpa sekalipun menginjakkan kaki di Makkah.

Ibadah haji, di sisi berbeda, adalah rukun Islam kelima yang wajib ditunaikan sekali seumur hidup bagi yang mampu. Puncak ibadah haji adalah wukuf di Arafah, yang berlangsung pada 9 Dzulhijjah, tepat sehari sebelum Iduladha. Di sinilah letak titik temu keduanya: wukuf di Arafah dan Iduladha memang terjadi berdampingan dalam kalender Islam.

Asal Usul Iduladha Berakar pada Kisah Nabi Ibrahim

Iduladha berpijak pada kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk menyembelih putranya, Ismail. Ketika keduanya menunjukkan ketaatan total, Allah mengganti Ismail dengan seekor domba. Peristiwa inilah yang menjadi dasar syariat kurban dalam Islam.

Ibadah haji juga erat kaitannya dengan Nabi Ibrahim. Tawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i antara Shafa dan Marwa, hingga lempar jumrah semuanya merujuk pada serangkaian peristiwa yang dialami Ibrahim dan keluarganya. Kedua ibadah ini berbagi akar sejarah yang sama, meski bentuk pelaksanaannya berbeda.

Berhaji Tidak Wajib Berkurban, Berkurban Tidak Harus Berhaji

Inilah poin yang kerap membingungkan. Seorang jemaah haji tidak otomatis wajib menyembelih hewan kurban di kampung halamannya, meski memang ada ketentuan dam (denda berupa penyembelihan hewan) bagi jemaah yang melanggar larangan tertentu selama berhaji.

Sebaliknya, seorang Muslim yang tinggal di Jakarta, Surabaya, atau Makassar tetap bisa dan disunahkan untuk berkurban sapi atau kambing pada Iduladha meski belum pernah berhaji. Kedua ibadah ini berdiri sendiri dalam hukum fikih Islam.

Kerancuan istilah “Hari Raya Haji” kemungkinan muncul karena kedekatan waktu antara puncak haji dan perayaan Iduladha. Kebiasaan ini mengakar kuat dalam percakapan sehari-hari masyarakat Indonesia, meski secara teknis tidak sepenuhnya tepat.

Dengan memahami perbedaan ini, umat Islam bisa lebih menghayati makna masing-masing ibadah secara utuh, baik bagi yang sedang berada di Tanah Suci maupun yang merayakan Iduladha dari rumah.

Penulis: Arif Budiman
Editor: Surya Dharma