Teras News — Jutaan pelajar Indonesia kini bisa mengakses kuliah dari profesor universitas terkemuka dunia hanya dengan koneksi internet. Tapi tanpa pengelolaan yang terstruktur, kemudahan itu bisa berbalik menjadi ketergantungan yang justru melemahkan kualitas sumber daya manusia bangsa.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan peringatan itu dalam keterangannya di Jakarta, Senin. Ia menegaskan teknologi memiliki dua sisi yang harus dipahami betul oleh seluruh ekosistem pendidikan nasional, mulai dari pemerintah, kampus, hingga pendidik di lapangan.
Pengetahuan Kini Bisa Diakses Semua Kalangan
Brian menggambarkan pergeseran besar yang sudah terjadi. Sebelum era digital, akses terhadap ilmu pengetahuan berkualitas tinggi hanya dimiliki segelintir kelompok. Kini situasinya berbeda.
Baca Juga:
“Beberapa waktu lalu, pengetahuan hanya milik kelompok tertentu, tetapi sekarang tidak lagi. Masyarakat dapat belajar langsung dari seorang profesor di top university karena adanya teknologi. Pengetahuan dapat diakses oleh semua kelompok dari berbagai kalangan, jadi ini poin utama teknologi membuat demokrasi pengetahuan,” katanya.
Fenomena ini mendorong apa yang Brian sebut sebagai demokratisasi pengetahuan. Namun ia menekankan, akses yang luas saja tidak cukup. Tanpa pengelolaan yang baik dan sistematis, potensi besar teknologi tidak akan menghasilkan peningkatan kualitas pembelajaran yang nyata.
Guru dan Dosen: Garda Terdepan yang Perannya Kian Vital
Di tengah derasnya perbincangan soal kecerdasan buatan yang disebut-sebut bisa menggantikan peran manusia, Brian justru berpendirian sebaliknya soal pendidik.
“Guru dan dosen menjadi garda terdepan kemajuan SDM juga teknologi. Mereka tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi, tetapi justru perannya semakin vital, bukan hanya mengajar, tetapi juga menjadi mentor dengan wawasan yang terbuka akan teknologi,” ujarnya.
Artinya, penguatan kapasitas pendidik agar adaptif terhadap perkembangan teknologi menjadi prioritas yang tidak bisa ditunda. Guru dan dosen perlu bertransformasi dari sekadar pengajar menjadi pemandu berpikir kritis di era informasi yang berlimpah ini.
Ilmu Dasar Jadi Benteng dari Ketergantungan Teknologi
Brian juga menyoroti risiko yang kerap diabaikan: teknologi yang dipakai tanpa fondasi pengetahuan yang kuat justru melahirkan generasi yang bergantung, bukan generasi yang inovatif.
“Saya selalu melihat ilmu-ilmu dasar merupakan sesuatu yang tidak bisa digantikan. Jadi seseorang yang memiliki pengetahuan fundamental yang kuat, maka dia akan bisa mengikuti perkembangan teknologi,” ucapnya.
Penguatan ilmu dasar atau fundamental knowledge karena itu ia pandang sebagai pondasi utama. Teknologi, menurut Brian, harus diposisikan sebagai alat untuk meningkatkan kapasitas manusia, bukan sekadar sarana kemudahan semata. Pendidikan tetap harus berorientasi pada pembentukan karakter, kompetensi, dan daya saing peserta didik.
Kolaborasi Pemerintah, Industri, dan Komunitas Jadi Kunci
Brian juga menyoroti pentingnya keterlibatan banyak pihak dalam transformasi pendidikan. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri.
Industri dan komunitas, menurut Brian, memiliki peran yang saling melengkapi dalam membangun ekosistem pendidikan yang kuat dan berkelanjutan. Kementerian yang ia pimpin, kata Brian, akan terus mendorong pemanfaatan teknologi secara inklusif sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Target akhirnya satu: mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan merata, serta menghasilkan generasi yang siap menghadapi tantangan global.
Editor: Arif Budiman