Teras News — Bali dilanda krisis sampah akut. Sejak awal April 2026, tempat pembuangan sampah terbesar di pulau itu berhenti menerima limbah organik, dan belum ada sistem pengganti yang siap beroperasi.
Akibatnya, sampah menumpuk di berbagai titik, termasuk di kawasan Pantai Kuta. Kantong-kantong sampah menggunung hingga setinggi pinggang di area parkir. Bau busuk tercium di kawasan yang selama ini dikenal sebagai ikon pariwisata Indonesia itu.
Tikus Berkeliaran, Wisatawan Australia Angkat Bicara
Justin Butcher, wisatawan asal Australia, menyaksikan langsung kondisi di Kuta. “Di sini banyak sekali tikus di malam hari. Baunya tidak sedap… pemandangannya tidak bagus,” katanya, seperti dilaporkan AFP pada Kamis (30/4/2026).
Baca Juga:
Tumpukan sampah di sejumlah lokasi memang menarik kerumunan tikus dan memicu kekhawatiran kesehatan warga sekitar. Sebagian warga yang frustrasi memilih membakar sampah mereka sendiri. Pilihan itu menghasilkan asap pekat yang memperparah kualitas udara.
Produksi Sampah 3.400 Ton Per Hari, Wisatawan Lampaui Penduduk Lokal
Bali memproduksi sekitar 3.400 ton sampah per hari. Beban itu makin berat karena jumlah wisatawan yang datang, sekitar tujuh juta orang per tahun, jauh melampaui populasi lokal yang hanya sekitar 4,4 juta jiwa.
Kebijakan menutup penerimaan limbah organik di tempat pembuangan terbesar itu merupakan bagian dari upaya pemerintah menegakkan larangan pembuangan terbuka. Larangan tersebut sebenarnya sudah dicanangkan sejak 2013, tetapi baru kini mulai ditegakkan secara ketat.
Pemerintah menetapkan ancaman hukuman penjara hingga tiga bulan dan denda Rp50 juta bagi pelanggar. Namun banyak warga mengaku tidak punya pilihan lain. Fasilitas pengelolaan sampah yang memadai belum tersedia untuk menggantikan sistem lama.
Plastik Berserakan di Hutan Bakau Dekat Denpasar
Dampak krisis ini tidak hanya terasa di kawasan wisata. Di pusat konservasi hutan bakau dekat Denpasar, sampah plastik tampak berserakan di bawah pohon-pohon bakau. Ekosistem yang seharusnya dilindungi itu kini ikut terdampak luapan sampah dari permukiman sekitar.
Krisis ini menempatkan Bali di persimpangan antara tekad pemerintah menegakkan aturan lingkungan dan kesiapan infrastruktur yang nyata-nyata belum mengejar. Selama celah itu belum tertutup, warga, wisatawan, dan ekosistem Bali menanggung akibatnya bersama-sama.
Editor: Surya Dharma