Teras News — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menyerap hampir satu juta tenaga kerja di seluruh Indonesia, dengan kisaran gaji antara Rp2.000.000 hingga Rp6.500.000 per bulan tergantung posisi dan tanggung jawab masing-masing.
Badan Gizi Nasional mencatat, program yang digulirkan Presiden Prabowo Subianto ini telah menyerap sekitar 987.000 tenaga kerja. Angka itu tak mengejutkan, mengingat setiap satu unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membutuhkan setidaknya 47 relawan dapur untuk melayani ribuan porsi makanan setiap harinya.
Gaji Ditanggung APBN, Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan Gratis
Seluruh pembiayaan gaji tenaga kerja MBG bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dikelola langsung oleh Badan Gizi Nasional. Artinya, struktur penggajian sudah diatur secara resmi oleh pemerintah dan bukan bergantung pada swasta.
Baca Juga:
Kabar yang membuat banyak pencari kerja tertarik: seluruh tenaga kerja MBG mendapatkan perlindungan jaminan sosial melalui BPJS Ketenagakerjaan dengan iuran yang ditanggung penuh oleh pemerintah. Ini berarti pekerja tidak perlu memotong gaji untuk iuran BPJS.
Untuk tenaga operasional seperti bagian cuci piring (ompreng) dan persiapan bahan baku, upah yang diterima biasanya disesuaikan dengan standar Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di wilayah dapur SPPG beroperasi. Posisi dengan tanggung jawab teknis lebih besar, seperti ahli gizi dan kepala dapur, mendapatkan kompensasi yang lebih tinggi dengan gaji mencapai Rp6.500.000 per bulan.
Ragam Posisi yang Tersedia di Dapur SPPG
Struktur tenaga kerja di setiap unit SPPG cukup beragam. Berikut posisi-posisi yang tersedia beserta perkiraan gaji:
Ahli Gizi bertugas memastikan kualitas dan kandungan nutrisi setiap menu makanan memenuhi standar yang ditetapkan. Posisi ini termasuk yang paling dihargai secara finansial karena menyangkut aspek kesehatan penerima manfaat secara langsung.
Chef atau juru masak bertanggung jawab mengolah makanan dalam jumlah besar sekaligus menjaga konsistensi kualitas. Memasak untuk ribuan porsi setiap hari bukan pekerjaan ringan, dan posisi ini membutuhkan pengalaman di bidang pengolahan pangan skala besar.
Akuntan memegang peran penting dalam menjaga transparansi keuangan operasional dapur. Mengingat dana berasal dari APBN, akuntabilitas pengelolaan keuangan menjadi sangat ketat.
Admin mengelola data dan administrasi harian untuk mendukung kelancaran operasional, mulai dari pencatatan distribusi makanan hingga pelaporan ke Badan Gizi Nasional.
Sopir memastikan distribusi makanan ke lokasi tujuan berjalan tepat waktu dan aman. Keterlambatan distribusi bisa berdampak langsung pada kualitas makanan yang diterima siswa dan penerima manfaat lainnya.
Asisten lapangan menjadi penghubung antara tim dapur dan pihak penerima manfaat di lokasi, memastikan koordinasi berjalan lancar.
Posisi operasional lain seperti bagian persiapan bahan, pemorsian, dan pencucian peralatan juga tersedia. Semua posisi bekerja mengikuti standar operasional prosedur (SOP) ketat yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional.
Peluang Diangkat Jadi ASN Terbuka
Bagi yang berminat menjadikan pekerjaan di MBG sebagai karier jangka panjang, ada peluang lebih besar yang menanti. Pemerintah dikabarkan berencana mengangkat tenaga inti SPPG seperti ahli gizi, akuntan, dan kepala SPPG menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui jalur Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Program MBG sendiri merupakan bagian dari misi Asta Cita Presiden Prabowo yang difokuskan pada penguatan sumber daya manusia. Program ini menyasar kelompok rentan yang berisiko mengalami stunting dan malnutrisi, termasuk anak-anak sekolah, santri, serta ibu hamil dan menyusui. Di luar aspek kesehatan, MBG juga dirancang menggerakkan ekonomi kerakyatan dengan melibatkan UMKM, petani, dan nelayan dalam rantai pasokan bahan baku.
Editor: Surya Dharma