Teras News — Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz setiap harinya. Ketika jalur sempit di antara Iran dan Oman itu kembali memanas, pasar energi global langsung bereaksi, dan harga minyak ikut mendidih.
Eskalasi ketegangan di Selat Hormuz dalam beberapa waktu terakhir membuat pelaku pasar energi global was-was. Harga minyak mentah bergerak naik-turun tajam, mencerminkan betapa rentannya pasokan energi dunia terhadap dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah itu.
Selat Hormuz: Choke Point yang Bikin Pasar Ketar-ketir
Selat Hormuz bukan sembarang jalur laut. Titik penyeberangan ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, dan menjadi urat nadi ekspor minyak dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Iraq, hingga Iran. Gangguan sekecil apa pun di sini langsung terasa di pompa bensin dari Tokyo sampai Frankfurt.
Baca Juga:
Ketegangan yang naik-turun di kawasan tersebut membuat para trader minyak harus memantau perkembangan setiap jam. Volatilitas harga yang tinggi dalam beberapa sesi perdagangan terakhir mencerminkan ketidakpastian itu.
Ketahanan Pasar Energi Dipertanyakan
Pertanyaan yang kini berputar di kalangan analis dan pelaku pasar cukup mendasar: sampai kapan pasar energi global mampu bertahan di tengah tekanan geopolitik yang terus berulang?
Catatan sejarah menunjukkan, setiap kali Selat Hormuz masuk dalam radar konflik, pasar minyak langsung merespons dengan lonjakan harga. Krisis minyak 1973 dan ketegangan Iran-Amerika Serikat di era 1980-an menjadi contoh betapa sensitifnya pasar energi terhadap ancaman di jalur strategis ini.
Kondisi pasar energi global ini dibahas secara mendalam dalam program Profit di CNBC Indonesia, Jumat (24/4). Program tersebut mengulas bagaimana volatilitas harga minyak saat ini berkaitan langsung dengan perkembangan situasi di Selat Hormuz, serta prospek ketahanan pasar energi ke depan.
Dampak ke Konsumen dan Industri
Bagi konsumen akhir di Indonesia, gejolak harga minyak global tidak bisa diabaikan. Kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional berpotensi menekan anggaran subsidi energi pemerintah, sekaligus membayangi harga bahan bakar minyak (BBM) di tingkat domestik.
Pelaku industri yang bergantung pada energi, mulai dari sektor transportasi hingga manufaktur, memantau perkembangan ini dengan cermat. Ketidakpastian harga energi secara langsung memengaruhi kalkulasi biaya produksi dan strategi bisnis mereka dalam jangka pendek.
Situasi di Selat Hormuz masih terus berkembang. Pasar energi global kini menunggu sinyal berikutnya, apakah ketegangan mereda atau justru meningkat, sebelum harga minyak menemukan titik keseimbangannya.
Editor: Arif Budiman