Berita

85 Anak PAUD Ikut Lomba Mewarnai Kartini dan Ki Hajar di Pasar Legi Ponorogo

7
×

85 Anak PAUD Ikut Lomba Mewarnai Kartini dan Ki Hajar di Pasar Legi Ponorogo

Sebarkan artikel ini

Teras News — Delapan puluh lima anak usia dini duduk rapi di lantai IV Pasar Legi Ponorogo, Sabtu (2/5/2026), dengan krayon di tangan dan gambar Kartini serta Ki Hajar Dewantara di depan mereka. Bukan di aula sekolah atau gedung serbaguna, melainkan di Sentra Kuliner sebuah pasar tradisional — itulah yang membuat lomba mewarnai ini berbeda dari biasanya.

Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro (Disperdagkum) Ponorogo menggandeng ponorogohebat.com menggelar lomba mewarnai untuk memperingati Hari Kartini dan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Sekaligus, kegiatan ini dirancang untuk mengenalkan anak-anak pada pasar adati, sebutan untuk pasar tradisional sebagai ruang pertemuan penjual dan pembeli yang hidup di tengah masyarakat.

Para peserta, yang seluruhnya berasal dari lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD), menggunakan meja gambar portable yang dibawa masing-masing. Suasana lantai IV Pasar Legi pun berubah menjadi ruang ekspresi anak-anak yang asyik memilih warna untuk gambar dua tokoh pendidikan nasional itu.

Plt Bupati Bagi Buku ke Seluruh 85 Peserta

Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita hadir langsung dan turun ke tengah para peserta. Ia membagikan buku kepada seluruh peserta tanpa terkecuali, sebuah gestur yang ia kaitkan langsung dengan semangat dua tokoh yang menjadi tema lomba.

“Bunda bagikan buku untuk semuanya. Minta ayah atau ibu membacakan di rumah karena Ibu Kartini dan Ki Hajar Dewantara itu suka sekali membaca,” kata Lisdyarita, yang akrab disapa Bunda Lis.

Kepada para orang tua yang hadir mendampingi, Bunda Lis menitipkan pesan agar tidak berhenti mendampingi tumbuh kembang anak. Soal menang dan kalah, ia memilih tidak mempersoalkannya. “Saatnya anak-anak Bunda menuangkan imajinasi dan kreativitasnya. Tidak ada yang kalah ataupun menang. Semuanya adalah pemenang,” ujarnya.

Lisdyarita merupakan bupati perempuan pertama di Ponorogo. Ia berharap anak-anak yang besar di kota ini tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki adab yang baik. “Bunda ingin anak-anak semangat belajar, berkarya, tumbuh dengan baik, patuh pada orang tua dan guru. Nanti kalau sudah besar yang cantik-cantik tumbuh cerdas seperti Raden Ajeng Kartini. Sedangkan yang cowok-cowok akan hebat seperti Ki Hajar Dewantara,” ungkapnya.

Pasar Tradisional Jadi Ruang Belajar Anak

Pemilihan Pasar Legi sebagai lokasi lomba bukan kebetulan. Pasar adati, atau pasar tradisional, adalah ruang sosial yang mulai jarang dikenal anak-anak generasi sekarang, kalah bersaing dengan mal dan platform belanja daring. Dengan membawa anak-anak PAUD langsung ke pasar, Disperdagkum Ponorogo ingin menanamkan pengenalan dini terhadap ruang ekonomi tradisional ini sejak usia paling muda.

Kegiatan ini sekaligus mengemas tiga peringatan dalam satu waktu: Hari Kartini yang jatuh pada 21 April, Hardiknas pada 2 Mei, dan pengenalan pasar tradisional kepada generasi kecil Ponorogo. Dengan kehadiran 85 peserta dari berbagai PAUD, antusiasme anak-anak dan orang tua terhadap lomba ini terlihat nyata di sudut pasar yang biasanya hanya ramai oleh transaksi jual beli.

Penulis: Bayu Saputra
Editor: Arif Budiman