Berita

Harga Tas Kresek Naik 100 Persen, Industri Plastik Tanggung Sendiri Sebagian Kenaikan Biaya

15
×

Harga Tas Kresek Naik 100 Persen, Industri Plastik Tanggung Sendiri Sebagian Kenaikan Biaya

Sebarkan artikel ini

Teras News — Produk plastik sehari-hari, dari kemasan makanan hingga tas kresek, kini jauh lebih mahal dari sebelumnya. Kenaikan bisa mencapai 100 persen untuk beberapa jenis produk, dan masyarakat yang berbelanja di pasar tradisional maupun warung sudah mulai merasakannya langsung di dompet.

Lonjakan itu bukan semata keputusan bisnis. Industri plastik dalam negeri tengah terjepit antara naiknya biaya produksi dan lemahnya daya beli konsumen. Harga bahan baku plastik merangkak naik seiring harga minyak mentah global, sementara produsen tidak leluasa mengalihkan seluruh beban biaya itu ke pembeli akhir.

Biaya Bahan Baku Naik Hingga 120 Persen

Ketua Umum Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), Suhat Miyarso, mengungkapkan tekanan biaya yang dialami pelaku industri sudah berlangsung dalam skala yang sulit dikelola. Ia memaparkan situasi ini dalam diskusi Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

“Kenaikan harga hampir linear dengan crude oil, sekitar 80 sampai 120 persen. Ini sangat mempengaruhi biaya produksi,” kata Suhat.

Bahan baku plastik seperti olefin dan aromatik merupakan turunan langsung dari minyak bumi. Ketika harga minyak mentah (crude oil) bergejolak di pasar global, biaya produksi plastik ikut melonjak dalam waktu singkat. Produsen tidak punya ruang untuk menyerap seluruh kenaikan itu tanpa mengorbankan margin usaha mereka.

Produsen Pilih Tanggung Sebagian Beban daripada Kehilangan Pasar

Pilihan produsen bukan tanpa risiko. Menaikkan harga terlalu tinggi berarti permintaan bisa anjlok, terutama karena produk plastik impor yang lebih murah masih bebas masuk ke pasar domestik. Karena itu, sebagian beban kenaikan biaya produksi akhirnya ditanggung sendiri oleh produsen.

“Passing cost itu tidak bisa semuanya. Ada batas daya beli, jadi sebagian harus kita tanggung sendiri,” ujar Suhat.

Istilah passing cost merujuk pada praktik mengalihkan kenaikan biaya produksi kepada konsumen melalui kenaikan harga jual. Dalam kondisi normal, ini adalah mekanisme wajar dalam dunia usaha. Namun ketika daya beli masyarakat tertekan, produsen terpaksa menelan sebagian kerugian agar produk mereka tetap terjangkau dan permintaan tidak runtuh.

Tas Kresek Jadi Produk Paling Terdampak

Dari sekian banyak produk plastik, tas kresek mencatat kenaikan harga paling tajam. Suhat menyebut kenaikannya bisa mencapai 100 persen, jauh di atas rata-rata kenaikan produk plastik lainnya.

“Yang bermasalah itu harganya. Ada yang naik sampai 100 persen, seperti tas kresek. Ini yang banyak dikeluhkan masyarakat,” katanya.

Kemasan makanan dan kebutuhan rumah tangga berbahan plastik lainnya juga mengalami kenaikan harga meski tidak sedrastis tas kresek. Pasokan produk di pasaran disebut masih tersedia, tetapi harga yang lebih tinggi membuat sejumlah konsumen, khususnya pelaku usaha kecil seperti pedagang warung dan pedagang pasar, harus menyesuaikan pengeluaran mereka.

Suhat berharap kondisi pasokan global membaik dalam waktu dekat agar tekanan harga bisa mereda. “Kita berharap situasi segera stabil agar harga bisa lebih terkendali dan tidak terus membebani masyarakat,” ucapnya.

Stabilitas harga produk plastik ke depan sangat bergantung pada dua hal: perkembangan harga minyak mentah di pasar internasional dan kebijakan pemerintah dalam negeri terkait industri petrokimia. Selama kedua faktor itu belum membaik, konsumen dan pelaku usaha kecil kemungkinan masih harus berhadapan dengan harga kemasan plastik yang tinggi.

Penulis: Rizky Pratama
Editor: Arif Budiman