Kesehatan

Harga Obat Kronis Bisa Naik 10-20 Persen Akibat Rupiah Melemah, Penderita Hipertensi dan Diabetes Paling Terdampak

6
×

Harga Obat Kronis Bisa Naik 10-20 Persen Akibat Rupiah Melemah, Penderita Hipertensi dan Diabetes Paling Terdampak

Sebarkan artikel ini

Teras News — Selasa (16/6/2026), epidemiolog Dicky Budiman memperingatkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpotensi mendongkrak harga obat-obatan, khususnya jenis obat yang bahan bakunya bergantung pada impor. Peringatan itu ia sampaikan di tengah tekanan ekonomi yang sudah terasa di berbagai sektor kebutuhan pokok masyarakat.

Dicky menyebut dua kelompok obat paling berisiko terdampak: obat generik bermerek dan obat paten. Keduanya mengandalkan bahan baku dari luar negeri, sehingga ketika rupiah melemah, biaya produksinya langsung melonjak.

Pasien Hipertensi, Diabetes, dan Kolesterol Tanggung Beban Setiap Bulan

Yang paling rentan adalah mereka yang mengonsumsi obat setiap hari tanpa bisa berhenti. Penderita hipertensi, diabetes, dan kolesterol masuk dalam kategori ini. Berbeda dengan pasien penyakit akut yang membeli obat sekali lalu sembuh, pasien kronis merasakan kenaikan harga itu berulang setiap bulan, selama bertahun-tahun.

“Kedua obat-obatan kronik atau jangka panjang seperti obat hipertensi, diabetes, kolesterol ini yang paling meresahkan masyarakat karena kan dikonsumsi rutin. Kenaikan harganya bisa langsung dirasakan tiap bulan,” kata Dicky.

Kenaikan sebesar 10 hingga 20 persen mungkin terlihat kecil di atas kertas. Tapi Dicky mengingatkan, angka itu tidak bisa dilihat terpisah dari kondisi ekonomi saat ini, saat harga bahan bakar, pangan, dan kebutuhan pokok lain juga sedang tertekan.

Kelompok Menengah Paling Terjepit

Dicky mengidentifikasi satu kelompok yang paling terjepit: masyarakat kelas menengah. Mereka tidak masuk kategori penerima bantuan sosial, tetapi daya beli mereka juga tidak cukup kuat untuk menyerap kenaikan harga yang terus-menerus.

Kondisi itu berpotensi memicu perilaku berbahaya. Sebagian orang bisa memilih mengurangi dosis obat sendiri, menggunakan sisa obat lama tanpa konsultasi, atau membeli obat tidak sesuai anjuran dokter demi menghemat pengeluaran. Bagi lansia dan penderita penyakit kronis, keputusan seperti itu bisa berakibat fatal.

“Kenaikan harga obat akan semakin menurunkan rasio konsumsi obat di Indonesia yang sudah tergolong rendah,” ujar Dicky.

Swamedikasi Berisiko Makin Marak

Dicky mencatat sebagian besar masyarakat Indonesia sudah terbiasa melakukan swamedikasi, istilah untuk praktik mengobati diri sendiri tanpa panduan tenaga kesehatan. Ketika harga obat merangkak naik, kebiasaan itu bisa semakin meluas dan makin tidak terkontrol.

Soal obat yang ditanggung BPJS Kesehatan, Dicky tidak menganggapnya sebagai solusi penuh. Jika biaya produksi terus meningkat sementara harga layanan dipertahankan, tekanan itu pada akhirnya bisa mengganggu ketersediaan dan pasokan obat di fasilitas kesehatan yang melayani peserta BPJS.

Pelemahan rupiah dan ketergantungan Indonesia pada bahan baku obat impor menjadi kombinasi yang membuat sistem kesehatan rentan terhadap gejolak nilai tukar. Bagi jutaan pasien kronis di seluruh Indonesia, perkembangan harga obat dalam beberapa bulan ke depan akan sangat menentukan apakah mereka tetap bisa menjalani pengobatan secara konsisten.

Penulis: Dian Permata
Editor: Ratna Dewi