Internasional

Rp5.193 Triliun Sejak PD II, Israel Kini Siapkan Jalan Keluar dari Ketergantungan Bantuan AS

9
×

Rp5.193 Triliun Sejak PD II, Israel Kini Siapkan Jalan Keluar dari Ketergantungan Bantuan AS

Sebarkan artikel ini

Teras News — Rp5.193 triliun. Angka itu mencerminkan total bantuan keuangan yang diterima Israel dari Amerika Serikat sejak Perang Dunia II berakhir. Kini, setelah puluhan tahun bergantung pada aliran dana Washington, Israel berencana mengakhiri ketergantungan tersebut dalam satu dekade ke depan.

Rencana Kemandirian Finansial Israel dari Washington

Rencana ini bukan keputusan kecil. Israel dan Amerika Serikat telah menjalin hubungan bantuan militer dan ekonomi yang sangat erat sejak negara itu berdiri pada 1948. Bantuan AS mencakup hibah militer, pinjaman ekonomi, hingga dukungan diplomatik di forum internasional. Nilai total Rp5.193 triliun itu mencerminkan betapa dalamnya ikatan finansial kedua negara selama hampir delapan dekade.

Langkah Israel ini muncul di tengah perubahan lanskap geopolitik yang terus bergerak. Ketergantungan pada satu mitra strategis kerap dianggap sebagai titik rentan, terutama ketika kebijakan dalam negeri AS berubah setiap empat tahun sekali mengikuti siklus pemilihan presiden.

Dekade Depan Jadi Target Pelepasan Dolar AS

Israel menargetkan pelepasan ketergantungan ini selesai dalam kurun satu dekade. Artinya, negara dengan ekonomi berbasis teknologi dan pertahanan yang kuat itu tengah menyusun kerangka fiskal yang tidak lagi mengandalkan transfer dana dari Washington sebagai salah satu pilar anggarannya.

Israel dikenal memiliki sektor teknologi dan industri pertahanan yang maju, dengan sejumlah perusahaan senjata lokal yang produknya diekspor ke berbagai negara. Kapasitas industri ini diyakini menjadi modal utama dalam rencana kemandirian finansial tersebut.

Publik kini menanti detail konkret dari rencana transisi ini, termasuk bagaimana Israel akan mengisi celah anggaran yang selama ini ditopang oleh bantuan AS, dan apakah langkah ini akan mengubah dinamika hubungan bilateral kedua negara ke depannya.

Penulis: Dian Permata
Editor: Surya Dharma