Internasional

Harga Minyak Brent Sentuh US$126 Per Barel di Tengah Krisis Iran, Trump Hadapi Tenggat Perang 1 Mei

4
×

Harga Minyak Brent Sentuh US$126 Per Barel di Tengah Krisis Iran, Trump Hadapi Tenggat Perang 1 Mei

Sebarkan artikel ini

Teras NewsHarga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga US$126,41 per barel pada Kamis (1/5/2026), level tertinggi dalam empat tahun terakhir, sebelum menetap di US$114,01. Lonjakan itu terjadi tepat saat Presiden AS Donald Trump menghadapi tenggat kritis berdasarkan undang-undang perang Amerika.

Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Juli masih bergerak naik 0,9% ke posisi US$111,34 pada pukul 07.17 pagi waktu ET, Jumat (1/5/2026). West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak mentah AS, diperdagangkan nyaris datar di US$105,07 setelah sempat menguat lebih awal.

Tenggat 60 Hari Resolusi Kekuatan Perang Jatuh 1 Mei

Ketegangan di pasar energi berakar dari konflik bersenjata yang AS dan Israel mulai pada 28 Februari 2026 dengan menyerang Iran. Trump secara resmi memberi tahu Kongres pada 2 Maret, dan tindakan itu memicu hitungan mundur 60 hari berdasarkan War Powers Resolution 1973. Artinya, tenggat waktunya jatuh tepat pada 1 Mei.

Undang-undang tahun 1973 itu mewajibkan presiden menarik pasukan dalam 60 hari setelah pemberitahuan kepada Kongres, kecuali parlemen secara eksplisit mengizinkan aksi militer tersebut. Kongres AS belum memberikan otorisasi itu.

Trump sendiri belum mengajukan permintaan perpanjangan 30 hari yang sebenarnya dimungkinkan oleh undang-undang yang sama, menurut sejumlah anggota parlemen.

Gedung Putih Klaim Permusuhan Sudah Berakhir Sejak Gencatan Senjata 7 April

Pemerintahan Trump menempuh jalan lain untuk menghindari keharusan meminta persetujuan Kongres. Seorang pejabat pemerintah menyatakan bahwa gencatan senjata yang dicapai tiga pekan lalu telah menuntaskan konflik secara hukum.

“Untuk tujuan Resolusi Kekuatan Perang, permusuhan yang dimulai pada hari Sabtu, 28 Februari, telah berakhir,” kata pejabat itu kepada MSNow, dikutip CNBC pada Jumat (1/5/2026).

Argumen itu pertama kali dilontarkan secara terbuka oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth dalam sidang di hadapan Komite Angkatan Bersenjata DPR pada Kamis pagi. Hegseth menyebut gencatan senjata yang disepakati pada 7 April sebagai penghentian efektif permusuhan, sehingga hitungan mundur 60 hari dianggap tidak lagi berlaku karena tidak ada kontak tembak langsung antara pasukan AS dan Iran sejak tanggal tersebut.

Ancaman Baru dan Rencana Serangan “Singkat dan Dahsyat”

Situasi di lapangan jauh dari tenang. Trump pada Rabu (29/4/2026) meningkatkan tekanan terhadap Teheran dengan bersumpah mempertahankan blokade AS terhadap Iran sampai negara itu menyetujui kesepakatan nuklir baru. Iran membalas dengan menolak membuka kembali Selat Hormuz selama blokade pelabuhan Iran oleh AS belum dicabut.

Selat Hormuz adalah jalur laut sempit di antara Iran dan Oman yang menjadi pintu masuk utama ekspor minyak dari Teluk Persia. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur ini setiap harinya.

Axios melaporkan bahwa Komando Pusat AS telah menyiapkan rencana untuk gelombang serangan yang digambarkan sebagai “singkat dan dahsyat” terhadap Iran, dengan tujuan memecah kebuntuan perundingan antara Washington dan Teheran. Dari pihak Iran, seorang pejabat senior Garda Revolusi dilaporkan mengancam akan melancarkan “serangan panjang dan menyakitkan” terhadap posisi AS apabila Washington memperbarui serangan.

Dengan tenggat hukum yang jatuh tepat di hari yang sama dengan lonjakan harga minyak ke level tertinggi empat tahun, tekanan terhadap Trump untuk menentukan langkah berikutnya, baik meminta otorisasi Kongres, mengklaim permusuhan telah usai, maupun mengambil opsi militer baru, kini semakin mengerucut.

Penulis: Bayu Saputra
Editor: Surya Dharma