Teras News — Tiga tahun. Selama itulah agen Mossad Eli Cohen berhasil menyusup ke jantung kekuasaan Suriah, membangun kepercayaan sampai ke tingkat presiden, dan nyaris menduduki kursi Wakil Menteri Pertahanan negara yang hendak ia intai. Operasi itu tercatat sebagai salah satu misi spionase paling dalam sepanjang sejarah intelijen modern.
Cohen lahir dan besar di Mesir sebelum direkrut Mossad pada 1954. Ketika dikirim ke Suriah, ia mengantongi identitas palsu bernama Kamel Amin Thaabet, seorang pengusaha tekstil kaya asal Suriah yang dikisahkan pindah ke Argentina pada 1949 untuk membangun bisnis keluarga. Latar belakang fiktif itu dirancang rapi agar tak ada yang meragukan asal-usulnya.
Pintu Masuk Lewat Jenderal Amin al-Hafez
Menurut buku Our Man in Damascus karya Elie Cohn (1971), Cohen mula-mula membangun koneksi melalui Jenderal Amin al-Hafez, yang ketika itu menjabat atase militer Suriah di Argentina. Cohen mengaku kepada al-Hafez bahwa ia ingin pulang dan membantu membangun Suriah yang tengah dilanda korupsi.
Baca Juga:
“Al-Hafez percaya dia adalah pengusaha nasionalis yang ingin memulihkan kehormatan Suriah,” tulis Cohn dalam buku tersebut, seperti dilaporkan CNBC Indonesia, Sabtu (2/5/2026).
Kepercayaan itu membuka akses luar biasa. Cohen diperkenalkan ke lingkaran pejabat tinggi dan elite militer. Ia rajin menggelar pesta yang menjadi ajang pertukaran informasi strategis. Penulis Samantha Wilson dalam buku Israel (2011) mencatat bahwa kebiasaan elite Suriah berpesta menjadi celah penting bagi Cohen untuk mengumpulkan data tanpa menimbulkan kecurigaan.
Naik ke Puncak Kepercayaan Presiden
Titik balik terjadi pada 1963. Al-Hafez naik menjadi presiden Suriah, dan hubungannya dengan Cohen yang dikenal sebagai Thaabet semakin erat. Cohen mulai diajak mengunjungi lokasi-lokasi militer sensitif. Dari kunjungan-kunjungan itulah ia mengumpulkan detail pertahanan Suriah yang kemudian dikirimkan ke Israel menggunakan kode morse.
Operasi berjalan lebih dari tiga tahun tanpa terbongkar. Puncaknya, Cohen mendapat tawaran menjadi Wakil Menteri Pertahanan Suriah.
“Ia sempat ragu menerima tawaran itu, namun Mossad mendorongnya melanjutkan operasi,” ungkap Cohn.
Sinyal Kode Morse Membongkar Identitasnya
Nasib Cohen berbalik pada awal 1965. Suatu malam, militer Suriah mendeteksi sinyal kode morse mencurigakan yang bersumber dari kediaman Cohen. Setelah penyelidikan intensif, ia ditangkap dan identitas aslinya terkuak.
Presiden al-Hafez dikabarkan murka. Kebocoran intelijen selama bertahun-tahun itu disebut menjadi faktor berulang kalinya Suriah kalah dalam konflik melawan Israel. Orang yang ia percaya ternyata adalah agen rahasia negara musuhnya sendiri.
Cohen disiksa, diadili, dan pada 18 Mei 1965 dieksekusi gantung di depan umum. Jenazahnya tidak pernah dipulangkan ke Israel.
Dampaknya Terasa Dua Tahun Setelah Eksekusi
Kematian Cohen tidak menghapus jejak operasinya. Informasi yang ia bocorkan selama aktif menyusup terbukti menentukan ketika Israel melancarkan Perang Enam Hari pada 1967 dan meraih kemenangan atas Suriah serta sejumlah negara Arab lainnya.
“Ia mungkin sosok paling berpengaruh dalam sejarah intelijen Timur Tengah,” tulis Cohn, menggambarkan betapa dalam dampak operasi Cohen terhadap dinamika kawasan.
Hingga kini, Israel masih berupaya memulangkan jenazah Eli Cohen. Perundingan dengan Suriah soal repatriasi jasad itu belum pernah membuahkan hasil, menjadikan operasi tragis ini belum sepenuhnya tuntas bahkan enam dekade setelah eksekusinya.
Editor: Ratna Dewi