Berita

Subsidi Kedelai Rp2.000 per Kg Disambut Pengusaha Tahu Tempe Banyumas, Lebih dari 500 Pelaku Usaha Menanti Realisasi

11
×

Subsidi Kedelai Rp2.000 per Kg Disambut Pengusaha Tahu Tempe Banyumas, Lebih dari 500 Pelaku Usaha Menanti Realisasi

Sebarkan artikel ini

Teras News — Ratusan pengusaha tahu dan tempe di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, kini menahan napas menunggu realisasi subsidi kedelai impor dari pemerintah. Margin keuntungan mereka terus menipis akibat fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mendongkrak harga bahan baku utama.

Pemerintah berencana memberikan subsidi kedelai impor sebesar Rp2.000 per kilogram yang disalurkan lewat Bulog. Kabar ini langsung mendapat respons positif dari pelaku usaha di sentra produksi tahu dan tempe Banyumas, yang tersebar di berbagai wilayah mulai dari Pliken, Kecamatan Kembaran, sebagai kawasan tempe, hingga Kalisari sebagai pusat produksi tahu.

Margin Tipis, Pengusaha Pilih Tidak Naikkan Harga

Isti, seorang pengusaha tempe di Desa Pliken, Kecamatan Kembaran, merasakan tekanan itu langsung di dapurnya setiap hari. Harga kedelai impor naik, tapi ia memilih bertahan tidak menaikkan harga jual demi menjaga pelanggan. Konsekuensinya, keuntungan yang dikantongi kian hari kian tipis.

Kondisi serupa dialami ratusan pengusaha lain di Banyumas. Ketua Asosiasi Pengusaha Mikro Kecil dan Menengah Kabupaten Banyumas (Aspikmas), Pujianto, mengatakan para pelaku usaha umumnya hanya punya dua pilihan sulit: menaikkan harga jual untuk menjaga margin, atau mempertahankan harga dengan risiko usaha makin tidak menguntungkan.

“Setiap pelaku usaha tentu punya strateginya masing-masing. Dengan adanya subsidi ini, mereka bisa lebih tenang dalam mengambil keputusan karena biaya produksi dapat sedikit ditekan,” kata Pujianto di Purwokerto, Rabu.

Kedelai Impor Masih Jadi Tulang Punggung Produksi

Masalah utamanya ada di bahan baku. Sebagian besar kedelai yang dipakai para pengusaha tahu dan tempe di Banyumas masih berasal dari impor, sehingga setiap gejolak kurs dolar AS langsung terasa di biaya produksi.

“Kenaikan dolar terhadap rupiah pasti berpengaruh karena bahan baku kedelai kita masih dominan mengambil dari luar negeri,” ujar Pujianto.

Meski nilai subsidi yang direncanakan hanya Rp2.000 per kilogram, Pujianto menilai angka itu tetap berarti mengingat volume kebutuhan kedelai industri tahu dan tempe sangat besar. Subsidi sekecil apapun, kalau dikalikan ribuan kilogram per bulan, nilainya tidak sedikit.

Lebih dari 500 Pelaku Usaha Menanti Kepastian

Pujianto memperkirakan jumlah pelaku usaha tahu dan tempe di Banyumas melampaui 500 orang, meski data pastinya belum tersedia. Mereka tersebar di berbagai kecamatan, tidak hanya terpusat di Pliken atau Kalisari.

Aspikmas menyambut rencana subsidi ini dengan tangan terbuka. Pujianto menyebut kebijakan itu sebagai wujud nyata kehadiran negara di tengah tekanan yang dialami pelaku usaha kecil.

“Ini jelas merupakan bentuk kehadiran negara terhadap kondisi yang saat ini kita sama-sama tahu sedang dihadapi pelaku usaha. Adanya subsidi tentu sangat disambut baik oleh teman-teman pelaku industri tahu dan tempe,” katanya.

Ia juga berharap subsidi bisa menekan dorongan pengusaha untuk menaikkan harga jual, sehingga daya beli masyarakat tidak ikut terpukul.

“Kami berharap kebijakan subsidi kedelai dapat segera direalisasikan sehingga mampu membantu pelaku usaha menjaga stabilitas produksi, mempertahankan daya saing usaha, serta mengurangi dampak kenaikan biaya bahan baku akibat fluktuasi nilai tukar mata uang,” kata Pujianto.

Kini yang ditunggu para pengusaha hanyalah satu: kapan subsidi itu benar-benar cair dan bisa dirasakan manfaatnya di lapangan.

Penulis: Rizky Pratama
Editor: Arif Budiman