Teras News — Warga Ponorogo kini punya agenda rutin yang tidak bisa dilewatkan setiap Jumat pekan pertama: kerja bakti massal atau yang dikenal dengan sebutan korve — istilah yang berasal dari bahasa Belanda untuk menyebut kerja wajib atau gotong royong terorganisir. Kegiatan ini menyasar fasilitas umum, tempat pembuangan sampah, hingga permukiman warga, sebagai bagian dari implementasi Gerakan Nasional Indonesia ASRI di tingkat kabupaten.
Gerakan ASRI — singkatan dari Aman, Sehat, Resik, dan Indah — dicanangkan Presiden Prabowo Subianto pada awal 2026. Program nasional ini mendorong pemerintah daerah menggelar kerja bakti rutin, memperbaiki pengelolaan sampah, dan menata ruang publik secara berkelanjutan. Pemerintah Kabupaten Ponorogo melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menjadi salah satu yang merespons seruan tersebut.
Korve Dua Pekan, Dua Sasaran Berbeda
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Pertamanan DLH Ponorogo, Adhi Fahri S, menjelaskan bahwa korve Jumat pertama difokuskan pada fasilitas umum termasuk tempat pembuangan sampah (TPS). “Kami ingin mengubah pandangan masyarakat bahwa TPS perlu perawatan agar bersih dan sehat,” kata Adhi, Senin (20/4).
Baca Juga:
Jumat pekan kedua, sasarannya bergeser ke lingkungan kantor pemerintahan dan permukiman, bahkan sampai ke tingkat rukun tetangga (RT). Adhi menyebut program ini dirancang fleksibel. “Program ini fleksibel yang bisa berjalan berdampingan dengan kebijakan WFH,” terangnya.
Bank Sampah, TPS 3R, hingga Alun-Alun Tanpa Tempat Sampah
DLH Ponorogo tidak berhenti di kerja bakti. Sejumlah program pengelolaan sampah sudah berjalan paralel: pendirian bank sampah, mengaktifkan kembali TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang sempat mati suri, perumusan kebijakan pengurangan plastik, serta edukasi pemilahan sampah dari sumber rumah tangga. Warga juga didorong mengolah sampah organik menjadi kompos atau pakan maggot — larva lalat yang digunakan sebagai pakan ternak dan ikan.
Ada satu pendekatan yang terbilang tidak lazim: DLH sengaja tidak memasang tempat sampah di sejumlah titik, termasuk alun-alun. “Ini bagian dari edukasi agar masyarakat sadar bahwa sampah adalah tanggung jawab masing-masing,” ujar Adhi.
Adhi memasang target perubahan perilaku warga dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Ia membayangkan kondisi di mana tidak ada lagi warga yang membuang sampah sembarangan, dan pemilahan sampah sudah menjadi kebiasaan sejak dari rumah.
Namun ia mengakui, target itu tidak bisa dicapai hanya oleh aparatur pemerintah. “Tetapi harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Semua harus bergerak bersama untuk mewujudkan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan indah,” pungkasnya.
Dilansir dari laporan Kominfo Ponorogo.
Berita Terkait
Editor: Surya Dharma