Berita

Rosan Roeslani Pasang Target Investasi Rp13.032,8 Triliun hingga 2029, Naik 143% dari Dekade Sebelumnya

41
×

Rosan Roeslani Pasang Target Investasi Rp13.032,8 Triliun hingga 2029, Naik 143% dari Dekade Sebelumnya

Sebarkan artikel ini

Teras News — Senin (15/6/2026), di gedung DPR RI Jakarta, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyampaikan target ambisius: Indonesia membutuhkan realisasi investasi sebesar Rp13.032,8 triliun hingga 2029. Angka itu bukan sekadar target biasa. Jumlahnya naik 143% dibandingkan total realisasi investasi selama 10 tahun terakhir, dan dirancang untuk menopang ambisi pertumbuhan ekonomi 8% di era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

“Memang peningkatannya mengalami cukup signifikan. Namun strategi investasi kami tidak hanya semata-mata mengejar besaran dominasi atau nominal, tapi juga menargetkan bagaimana investasi yang masuk ini adalah investasi yang berkualitas,” kata Rosan di hadapan DPR.

Triwulan I 2026: Rp498,8 Triliun dan 700.000 Lapangan Kerja Baru

Untuk awal tahun, catatan investasi sudah terbilang solid. Realisasi investasi pada triwulan I tahun 2026 mencapai Rp498,8 triliun, tumbuh 7,2% secara tahunan. Angka itu setara 24,4% dari total target investasi sepanjang 2026, meski kondisi geopolitik dan geoekonomi global sedang bergejolak.

Yang tidak kalah penting adalah dampaknya ke pasar kerja. Rosan menyebut investasi di kuartal pertama menyerap sekitar 700.000 tenaga kerja langsung, naik 18,9% dibanding periode yang sama tahun lalu. “Angka ini tentunya tidak termasuk angka kerja angkatan kerja tidak langsung dari aktivitas pendukung investasi,” ujarnya.

Komposisi investasi terbagi hampir merata antara dalam dan luar negeri. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menyumbang 49,9% atau senilai Rp248,8 triliun, tumbuh 6% secara tahunan. Penanaman Modal Asing (PMA) berkontribusi 50,1% atau Rp250 triliun.

Luar Jawa Mulai Bersaing, Lima Provinsi Masuk 10 Besar

Sebaran investasi juga menunjukkan pola yang menarik secara geografis. Pulau Jawa masih unggul tipis dengan porsi 50,4% atau Rp251,3 triliun. Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan Jawa Timur mendominasi sebagai empat lokasi investasi teratas.

Namun lima provinsi di luar Jawa berhasil masuk dalam 10 besar nasional. Sulawesi Tengah mencatat porsi 6,4%, disusul Maluku Utara 5%, Kepulauan Riau 4,8%, Nusa Tenggara Barat 3,6%, dan Kalimantan Timur 3,2%. Tren ini mencerminkan pergeseran bertahap investasi ke kawasan-kawasan berbasis sumber daya alam dan hilirisasi mineral.

Sektor-sektor yang paling banyak menyerap investasi mencakup industri logam, jasa, pertambangan, perumahan, kawasan industri, perkantoran, logistik, dan telekomunikasi.

Singapura Tetap di Puncak, AS dan Jepang Masuk Lima Besar

Dari sisi negara asal investor, tidak ada pergeseran besar. Singapura masih memimpin dengan nilai investasi US$ 4,6 miliar, diikuti Hong Kong sebesar US$ 2,7 miliar yang berperan sebagai hub bisnis global. Tiongkok berada di posisi ketiga dengan US$ 2,2 miliar, Amerika Serikat US$ 1,3 miliar, dan Jepang US$ 1 miliar.

Rosan juga mencatat kehadiran investor dari Eropa dan Amerika Utara yang masing-masing menyumbang 10% dari total PMA. Inggris, Belanda, dan Australia masuk dalam 10 besar negara investor. “Secara keseluruhan Eropa dan Amerika Utara masing-masing menyumbang 10%, menunjukkan bahwa sumber investasi tetap terdiversifikasi secara baik dan lintas global,” kata Rosan.

Hilirisasi sumber daya alam disebut sebagai salah satu kontributor utama dalam realisasi investasi tahun ini. Kebijakan hilirisasi, yang mendorong pengolahan bahan baku mineral di dalam negeri sebelum diekspor, memang menjadi salah satu prioritas pemerintahan Prabowo untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional.

Dengan target Rp13.032,8 triliun yang harus tercapai dalam empat tahun ke depan, pemerintah kini dihadapkan pada tantangan menjaga konsistensi pertumbuhan investasi setiap kuartal, di tengah ketidakpastian ekonomi global yang belum sepenuhnya mereda.

Penulis: Arif Budiman
Editor: Surya Dharma