Berita

Transaksi RI-China USD154,5 Miliar Kini Bisa Pakai Rupiah, Tanpa Dolar AS

9
×

Transaksi RI-China USD154,5 Miliar Kini Bisa Pakai Rupiah, Tanpa Dolar AS

Sebarkan artikel ini

Teras News — Nilai perdagangan Indonesia dengan China mencapai USD154,5 miliar sepanjang 2025, seluruhnya bergantung pada dolar Amerika Serikat sebagai mata uang perantara. Kini, setelah perjanjian yang ditandatangani di Shanghai pada 11 Juni 2026, seluruh transaksi dagang itu bisa diselesaikan langsung menggunakan rupiah atau renminbi.

Kesepakatan itu lahir dari penandatanganan Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA), yakni perjanjian pertukaran mata uang dua arah, antara Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Gubernur People’s Bank of China (PBOC) Pan Gongsheng. Bersamaan dengan itu, Memorandum of Understanding (MoU) tentang Local Currency Transaction (LCT) juga diperluas ke wilayah Hong Kong, dengan ikut ditandatanganinya perjanjian oleh Eddie Yue, Chief Executive Hong Kong Monetary Authority (HKMA).

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyambut kesepakatan ini dengan apresiasi terbuka. “Kesepakatan itu membuat transaksi antara Indonesia, China Daratan dan Hong Kong bisa dilakukan dengan menggunakan rupiah atau renminbi tanpa harus menggantungkan pada dolar Amerika Serikat,” kata Dasco dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (14/6/2026).

QRIS Lintas Batas: 191 Penyedia Layanan China Sudah Terhubung

Cakupan kesepakatan ini melampaui sekadar transaksi perbankan antar-pemerintah. Dalam MoU tersebut juga disepakati penggunaan QRIS lintas batas antara Indonesia dan China, sehingga pelaku usaha dari kedua negara bisa bertransaksi langsung menggunakan sistem pembayaran digital tanpa konversi dolar.

Dasco menyebut infrastruktur digitalnya sudah siap. “Sistem ini sudah melibatkan 191 penyedia layanan di China dan 24 di Indonesia, semuanya terhubung,” ujarnya.

Bagi eksportir dan importir Indonesia, ini berarti biaya konversi mata uang yang selama ini wajib melewati dolar AS bisa dipangkas. Transaksi yang melibatkan nilai ratusan miliar dolar per tahun dengan mitra dagang terbesar Indonesia itu kini punya jalur pembayaran alternatif yang lebih langsung.

Konteks: Indonesia-China, Mitra Dagang Terbesar RI

China konsisten menempati posisi mitra dagang terbesar Indonesia. Angka USD154,5 miliar pada 2025 mencerminkan betapa dalamnya ketergantungan perdagangan bilateral kedua negara, sekaligus betapa besarnya kebutuhan dolar AS yang selama ini tercipta hanya dari transaksi dagang ini saja.

Pola ketergantungan pada dolar dalam perdagangan internasional bukan masalah tunggal Indonesia. Banyak negara berkembang menghadapi tekanan serupa: fluktuasi nilai tukar dolar langsung berdampak pada harga impor, cadangan devisa, hingga inflasi domestik. Kesepakatan mata uang lokal seperti BCSA dan LCT menjadi salah satu cara negara-negara ini mengurangi eksposur terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat.

“Ini upaya yang sangat serius untuk mengurangi kebutuhan dolar Amerika Serikat untuk transaksi dagang. Termasuk digunakannya QRIS lintas negara antara Indonesia-China. Hal ini dilakukan BI untuk memperkuat rupiah,” kata Dasco.

Dengan perjanjian ini resmi berlaku, implementasi di level pelaku usaha menjadi penentu seberapa besar dampak nyatanya terhadap permintaan dolar dan stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka menengah.

Penulis: Ahmad Fauzan
Editor: Arif Budiman