Teras News — Pengguna kendaraan berbahan bakar Pertamax dan BBM non-subsidi RON 92 ke atas kini harus merogoh kocek lebih dalam setiap kali mengisi tangki. Harga Pertamax resmi naik menjadi Rp16.250 per liter, sebuah angka yang langsung terasa di pompa SPBU seluruh Indonesia.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, mengatakan kenaikan harga BBM non-subsidi untuk RON 92 ke atas sudah mempertimbangkan kemampuan finansial konsumen. Pernyataan itu disampaikan merespons kekhawatiran publik atas beban tambahan yang muncul dari kebijakan penyesuaian harga ini.
Pertamina: Daya Beli Jadi Pertimbangan
Simon menyebut proses penetapan harga tidak dilakukan sembarangan. Menurut dia, Pertamina telah melalui kalkulasi yang mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat sebelum angka Rp16.250 per liter ditetapkan untuk Pertamax.
Baca Juga:
Pertamax masuk dalam kategori BBM non-subsidi. Harganya tidak ditanggung pemerintah, sehingga fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah secara langsung berpengaruh pada harga jual di SPBU. Berbeda dengan Pertalite yang harganya masih dikendalikan pemerintah melalui skema subsidi.
Siapa yang Paling Terdampak?
Pengguna Pertamax umumnya adalah pemilik kendaraan roda empat dengan mesin berkompresi tinggi yang membutuhkan oktan minimal 92. Kenaikan harga ini paling terasa bagi pengguna mobil pribadi yang rutin mengisi bahan bakar setiap pekan.
Bagi pengguna yang rata-rata mengisi 40 liter per minggu, selisih harga dari periode sebelumnya bisa menambah pengeluaran bulanan secara nyata — tergantung dari berapa jauh harga sebelumnya sebelum penyesuaian ini diberlakukan.
Kebijakan harga BBM non-subsidi di Indonesia memang bersifat dinamis. Pemerintah memberi ruang bagi badan usaha seperti Pertamina untuk menyesuaikan harga mengikuti formula yang memperhitungkan harga minyak mentah, biaya distribusi, dan margin bisnis, selama tidak melampaui batas yang ditetapkan regulasi.
Publik kini menanti penjelasan lebih rinci dari Pertamina soal kapan penyesuaian ini mulai berlaku secara serentak di seluruh SPBU, serta apakah ada kemungkinan revisi jika tekanan ekonomi masyarakat dinilai terlalu berat dalam waktu dekat.
Editor: Arif Budiman