Berita

Perjanjian Dagang RI-AS Dinilai Timpang: Indonesia Tanggung Beban Lebih Besar dari Amerika

11
×

Perjanjian Dagang RI-AS Dinilai Timpang: Indonesia Tanggung Beban Lebih Besar dari Amerika

Sebarkan artikel ini

Teras News — Eksportir dan pelaku usaha Indonesia berpotensi menghadapi tekanan lebih berat dari perjanjian dagang terbaru antara Indonesia dan Amerika Serikat. Perjanjian bertajuk Agreement on Reciprocal Trade (ART) dinilai tidak benar-benar menerapkan prinsip timbal balik yang seharusnya menjadi fondasi setiap kerja sama perdagangan antarnegara.

Kritik ini mencuat seiring perbincangan publik soal substansi ART yang diklaim membebani Indonesia secara tidak proporsional dibanding posisi AS. Dalam prinsip timbal balik, kedua pihak idealnya mendapat hak dan kewajiban setara. Namun penilaian yang beredar menyebut kondisi dalam ART jauh dari ideal itu.

Beban Tidak Seimbang di Pundak Indonesia

Nama perjanjian ini mengandung kata “reciprocal” atau timbal balik, tapi justru di situlah persoalannya. Pihak yang mempersoalkan ART menilai Indonesia menanggung kewajiban lebih besar ketimbang AS dalam kerangka perjanjian tersebut, sehingga manfaat yang diterima kedua negara tidak setara.

Ketidakseimbangan semacam ini bukan tanpa konsekuensi nyata. Pelaku ekspor Indonesia, mulai dari sektor manufaktur hingga komoditas, bisa menghadapi hambatan tambahan jika posisi tawar Indonesia dalam perjanjian ini lebih lemah. Sebaliknya, produk AS berpeluang masuk ke pasar Indonesia dengan syarat yang lebih longgar.

Prinsip timbal balik dalam perdagangan internasional mensyaratkan bahwa konsesi yang diberikan satu negara harus diimbangi konsesi setara dari mitra dagangnya. Jika prinsip ini tidak terpenuhi, negara dengan posisi ekonomi lebih kecil biasanya menanggung dampak lebih besar dari kesepakatan yang ada.

Posisi Negosiasi Indonesia Dipertanyakan

Pertanyaan yang kini mengemuka adalah sejauh mana tim negosiasi Indonesia mampu mengamankan kepentingan nasional dalam proses penyusunan ART. AS sebagai mitra dagang besar memiliki daya tekan yang signifikan dalam setiap perundingan bilateral.

Indonesia dan AS memang memiliki hubungan dagang yang substansial. AS secara konsisten masuk dalam daftar tujuan ekspor utama Indonesia, mencakup berbagai produk dari tekstil, alas kaki, hingga produk sawit. Ketergantungan ekspor ini membuat posisi Indonesia dalam negosiasi kerap berada dalam tekanan struktural.

Publik dan kalangan pengusaha kini menunggu penjelasan lebih rinci dari pemerintah soal isi dan dampak nyata ART, termasuk klausul-klausul spesifik yang dikritik tidak mencerminkan kesetaraan antara kedua negara.

Penulis: Surya Dharma
Editor: Arif Budiman